DIY terapkan "Jajar Legowo" tingkatkan produksi padi

id jajar legowo, pola tanam padi

Petani melakukan persiapan menjelang musim tanam (Foto antarafoto.com)

Yogyakarta, (Antaranews Jogja) - Dinas Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta akan memaksimalkan penerapan pengelolaan sawah dengan sistem tanam "jajar legowo" untuk meningkatkan produksi padi.

"Sebenarnya sudah banyak petani di DIY yang menerapkan sistek tanam `jajar legowo` namun belum semuanya," kata Kepala Dinas Pertanian (Distan) DIY Sasongko di Yogyakarta, Senin.

Menurut Sasongko, pola tanam tersebut sangat efektif meningkatkan produksi padi karena penerapan pola tanam itu akan memberikan ruang yang cukup bagi padi untuk mendapatkan sinar matahari.

Selain itu dengan pola tanam jajar legowo, lanjut dia, akan memungkinkan petani menanam padi lebih banyak dari pola tanam sebelumnya.

"Tanaman padi juga akan lebih mudah menyerap nutrisi dari dalam tanah. Pemupukan serta penyemprotan pestisida juga lebih leluasa," kata dia.

Sasongko mengatakan sistem tanam "jajar legowo" merupakan cara tanam padi dengan pola beberapa barisan tanaman yang diselingi satu barisan kosong. Tanaman yang seharusnya ditanam pada barisan yang kosong dipindahkan sebagai tanaman sisipan di dalam barisan.

"Dengan jarak tanam yang teratur, matahari lebih banyak masuk sehingga fotosintesis makin bagus dan produktivitas meningkat," kata dia.

Selain meningkatkan sosialisasi penerapan jajar legowo, menurut dia, guna mendorong produksi padi, pada 2018 Distan DIY juga akan memperluas pemanfaatan alat pertanian modern.

Kepala Seksi Produksi Tanaman Pangan Distan DIY Anton Raharja pemanfaatan alat pertanian modern telah diberlakukan untuk dua kecamatan percontohan di masing-masing kabupaten. Seperti, di Sleman, diterapkan di Kecamatan Prambanan dan Kulon Progo berlokasi di Nanggulan.

Lahan percontohan pertanian modern itu, kata dia, telah dikembangkan bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dilengkapi dengan berbagai komponen alat pertanian modern seperti traktor, rice transplanter, mesin dapog, harvester.

"Penerapannya kami utamakan di daerah yang datar dulu, khususnya di luar Gunung Kidul," kata dia.

Agar tanaman padi lebih tahan pada perubahan cuaca, menurut Anton, petani juga telah dianjurkan menggunakan benih padi dengan varietas yang mampu bertahan baik saat musim hujan dan kemarau, serta tahan serangan wereng.

Selama ini, terdapat varietas inpari 29,30,31,32 dan 33 yang telah selesai dikembangkan Balitbang Pertanian. Varietas itu bersifat tahan air, sehingga dapat menjadi solusi lahan padi yang kerap banjir pada musim penghujan.

Berdasarkan data perkiraan sementara kontribusi produksi padi DIY selama 2017, kata Anton, terbesar masih dari area pertanian di Kabupaten Sleman yang mencapai 293.807 ton, Gunung Kidul mencapai 292.473 ton, Bantul 190.319 ton, Kulon Progo 119.649 ton, dan Kota Yogyakarta 824 ton. "Kalau untuk kebutuhan masyarakat DIY sendiri produksi padi mencukupi," kata dia. ***3***
Pewarta :
Editor: Eka Arifa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar