KISAH PERJUANGAN BURUH MIGRAN HINGGA JADI JURAGAN

id perjuangan buruh migran,tkw taiwan

Ilustrasi, Festival kuliner internasional yang menampilkan sejumlah menu dari berbagai belahan dunia (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww)

Jakarta (Antaranews Jogja) - Berdasarkan data dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), total Buruh Migran Indonesia (BMI) yang mengadu nasib di sejumlah negara telah mencapai hampir 150 ribu orang.
         
Saat ditemui dalam sebuah kesempatan di Jakarta, Direktur Penyiapan dan Pembekalan Pemberangkatan BNP2TKI Arini Rahyuwati menyampaikan bahwa total BMI yang ditempatkan di luar negeri tahun 2017 yaitu 148.285 ribu orang.

Meski mengalami penurunan dibanding tahun 2016 yang sebesar 156.601 orang, namun secara umum minat masyarakat Indonesia untuk mengadu nasib di luar negeri tidak menurun.
         
Dari jumlah ini, tujuan terbanyak BMI adalah ke Malaysia, lalu disusul Taiwan, Hongkong, Singapura, Arab Saudi, Brunei Darussalam, dan negara-negara lainnya di kawasan Asia dan Timur Tengah.
         
Untuk kawasan Asia Timur, Taiwan menjadi negara tujuan BMI terbanyak pada tahun 2017 dengan jumlah mencapai 70.645 orang, dengan jumlah total pekerja migran asal Indonesia yang berada di Taiwan ialah 253.000 orang.
         
Angka tersebut menjadikan Indonesia merupakan negara terbesar penyumbang buruh migran di negera tersebut, dengan persentase mencapai 39 persen dari total buruh migran asing di Taiwan yang mencapai 650 ribu orang.
         
Berdasarkan penuturan sejumlah BMI yang ditemui Antara, Taiwan merupakan negara yang nyaman dan menjanjikan peluang positif lain selain menjadi buruh atau pekerja.
         
Situasi yang kondusif serta warga lokal yang terbuka dan mudah menerima warga negara asing membuat sejumlah buruh migran asal Indonesia bisa berkembang dan mempelajari banyak hal di negara pulau tersebut.
         
Salah satunya adalah Pindi, seorang BMI asal Purwokerto yang tujuh tahun bekerja di Taiwan, kini tengah sibuk dalam mengembangkan usaha baru di bidang karya seni pembuatan boneka lilin.
         
Boneka lilin yang dikenalkan pun tidak sembarangan, karena dia menggunakan konsep kebudayaan tradisional Indonesia sebagai ide boneka lilin tersebut untuk dikenalkan ke khalayak internasional.
         
Ide yang didapatkan wanita bernama asli Fidati ini bermula saat ia menyadari bahwa Taiwan menjadi salah satu tujuan pariwisata internasional, di mana ia kerap bertemu dengan wisatawan mancanegara di sana.
         
Pindi pun menemukan bahwa sebetulnya banyak warga Taiwan atau wisatawan asing yang sudah mengetahui Indonesoia dan ingin berkunjung ke Tanah Air namun belum memiliki informasi yang cukup.
         
Oleh karenanya dia pun menuangkan idenya melalui pembuatan boneka lilin karet yang dibalut dengan busana-busana tradisional, dengan tujuan mengenalkan budaya lokal ke orang asing.
         
Pindi kerap membuat boneka lilin berkonsep lokal dengan bentuk antara lain penari tradisional atau pasangan pengantin adat Jawa.
         
Agar usaha pengenalan budaya nasional tersebut semakin efektif, Pindi pun kerap mengikuti pameran atau kegiatan kebudayaan di Taiwan untuk mengenalkan kerajinan tangannya tersebut.
         
Pindi juga mengajak teman-teman sesama pekerja lainnya untuk membuat seni rupa tersebut, sehingga bisa dijadikan pemasukan tambahan bagi mereka.
         
Hal serupa juga dilakukan Pindi saat pulang ke Indonesia, yaitu dengan memberikan pengajaran kepada rekan-rekan mengingat dia pun butuh pihak pendukung untuk menyebarkan pengalamannya tersebut.
         
Dia menceritakan, salah satu keberhasilannya ialah mana kala ada salah seorang temannya di Taiwan yang bisa meraih penghasilan bulanan sebesar Rp40-80 juta dari usaha kerajinan yang dia ajarkan.
         
Selain itu, Pindi juga memberikan pelatihan pembuatan boneka lilin ke Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar dan mendapat apresiasi positif karena anak-anak sangat antuisias mengikuti pelatihan tersebut.
         
Meski belum mencapai tahap komersil skala besar, namun dia berharap hasil olah kreatifitasnya tersebut dapat diterima di kalangan dalam negeri dan bisa menjadi suvenir penarik pemasukan negara.
   
Akibat Tekanan
    
Kisah sukses lainnya juga datang dari seorang perempuan yang kini berkecimpung di bidang makanan dan pernah menetap di Taiwan, bukan sebagai buruh migran namun mahasiswi pada salah satu perguruan tinggi.
         
Dia bernama Claudia Syanny Latif, yang pernah belajar Bahasa Mandarin di Taiwan Fu Jen Catholic University.
         
Sebelum menggeluti bisnis permen susu dan nastar Taiwan di Indonesia dengan berbekal ilmu dan pengalaman di luar negeri, Claudia awalnya merupakan seorang arsitek.
         
Namun nasibnya berubah drastis kala terjadi krisis ekonomi dan huru-hara di era akhir 90an karena banyak proyek pembangunan yang dia garap terpaksa mandeg dan memaksanya menjadi pengangguran.
         
Di tengah nasibnya yang tidak menentu, ditambah orang tuanya juga meninggal dalam waktu yang hampir bersamaan, membuatnya mendapat ide untuk mengasah kemampuan Bahasa Mandarinnya di Taiwan.
         
Dengan bermodal sisa tabungan yang masih dimiliki, dia pun secara nekat berangkat ke Taiwan untuk menempuh studi yang ia inginkan, mengingat pada masa itu pembelajaran Bahasa Mandarin masih sangat jarang ditemui dan bahkan dilarang.
         
Setelah cukup lama menetap di Taiwan dan mempelajari banyak hal termasuk cara membuat panganan khas, dia pun kembali ke Indonesia dan pada tahun 2011 mencoba memulai usahanya di bidang makanan ringan dan kue.
         
Dengan mengusung nama "Marguerite Nougat", Claudia mencoba mengenalkan permen susu dan kue nastar Taiwan kepada masyarakat Indonesia setelah melakukan sejumlah proses matang antara lain penelitian produk makanan, target pasar, pemasaran daring, hingga sertifikasi makanan di dalam negeri.
         
Dalam usaha menarik pelanggan, Marguerite Nougat pun berkomitmen dan memastikan produk-produk yang dijualnya merupakan makanan sehat dan berhasil diterima dengan baik oleh masyarakat.
         
Waktu pun berjalan, sejumlah penghargaan di bidang pangan dan menjadi sorotan media lokal pun dia dapatkan, dan hingga akhirnya tahun 2015 Claudia pun berhasil membuka kedai pertamanya di Mal Kelapa Gading.
         
Meski awalnya hanya berjualan secara daring, namun berkat ketekunan dan ilmu yang didapatkan dari Taiwan membuat usaha Claudia tidak sia-sia, bahkan mendapatkan penghargaan dari Kementerian Perdagangan hingga lembaga dari Australia.
         
Faktor pemilihan bahan, higienitas, hingga proses pengemasan yang baik menjadi faktor Marguerite Nougat mendapatkan penghargaan tersebut, katanya. 
(T.R029) 27-01-2018 19:06:15

Pewarta :
Editor: Agus Priyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar