Logo Header Antaranews Jogja

JAC menggelar "nobar" menyaksikan gerhana bulan langka

Senin, 29 Januari 2018 20:55 WIB
Image Print
ilustrasi gerhana bulan (ANTARA FOTO)

Yogyakarta, (Antaranews Jogja) - Komunitas Pecinta Dunia Astronomi "Jogja Astro Club" mengajak warga Yogyakarta mengikuti nonton bareng fenomena gerhana bulan langka "Super Blue Blood Moon" pada Rabu malam, di Alun-alun Utara Yogyakarta.

"Kami menyiapkan lima teleskop di Alun-alun Utara karena fenomena gerhana bulan kali ini hanya terjadi 150 tahun sekali," kata Pendiri "Jogja Astro Club" (JAC) Mutoha Arkanuddin di Yogyakarta, Senin.

Mutoha menjelaskan fenomena "Super Blue Blood Moon" merupakan fenomena langka di mana gerhana bulan terjadi saat bulan purnama, dan bulan pada posisi terdekat dengan bumi. Dengan demikian, pada Rabu (31/1) malam, bulan akan tampak lebih besar dan lebih terang dari biasanya.

"Jadi ada tiga fenomena pada bulan yang terjadi bersamaan dalam satu malam, tentu momen itu sayang untuk dilewatkan," kata dia.

Menurut Mutoha, acara nonton bareng di Alun-Alun Utara akan digelar dengan menggandeng Taman Pintar Yogyakarta, serta Masjid Gedhe Kauman. Empat teleskop disediakan agar masyarakat bisa meneropong gerhana langsung secara bergantian, sedengkan satu teleskop lainnya disambungkan ke layar monitor sehingga masyarakat cukup menyaksikan penampakan gerhana hanya melalui layar.

Pengamatan gerhana bulan itu, menurut dia, akan mulai dilakukan saat bulan muncul pukul 17.45 WIB hingga gerhana berakhir pukul 20.57 WIB. Selain di Alun-alun Utara, acara nonton bareng gerhana itu juga akan digelar komunitas itu di tiga titik lainnya, yakni di Desa Ngloro, Saptosari, Gunung Kidul, di Alun-alun Magelang, serta di Markas JAC di Jalan Gejayan, Yogyakarta.

Selain mengajak masyarakat melakukan pengamatan langsung, menurut Mutoha, acara nonton bareng bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat seputar fenomena astronomi tersebut. Dalam kesempatan itu, JAC juga akan mengajak masyarakat yang beragama Islam untuk "Shalat Khusuf" atau Shalat Gerhana Bulan di Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta.

"Misi kami adalah kami ingin memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai fenomena astronomi sekaligus menepis mitos-mitos yang biasa melekat saat gerhana bulan terjadi. Mitos seperti bulan dimakan Betara Kala, atau berkaitan dengan kematian seseorang itu semua tidak ada," kata dia.***4***


(L007)




Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026