Dispar Bantul: mayoritas desa wisata kurang produktif

id desa wisata

Desa wisata Tembi, Bantul (Foto Istimewa)

Bantul (Antara) - Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan hanya sekitar 25 persen dari total 38 desa wisata se-Bantul yang produktif, mayoritas sisanya masih kurang produktif.

"Dari total 38 desa wisata itu kalau yang betul-betul sehat dan produktif hanya 25 persen, disebut sehat itu dalam pengertian kunjungan wisatawan banyak dan pergerakan ekonomi masyarakatnya bagus," kata Plt Kepala Dinas Pariwisata Bantul Kwintarto Heru di Bantul, Selasa.

Menurut dia, masih adanya desa wisata yang tidak produktif bahkan jumlahnya mayoritas itu karena tidak semua desa wisata mempunyai pergerakan sama, misalnya ada yang tumbuh pesat, tumbuh perlahan bahkan stagnan.

Ia menjelaskan, desa wisata dikategorikan menjadi beberapa kriteria, yaitu desa wisata embrio, desa wisata berkembang dan maju atau yang paling bagus, jika ada desa wisata embrio langsung bergerak maju itu karena kecepatan pergerakan.

"Contohnya di Mangunan tiga tahun dari embrio langsung maju, tapi di desa lain tidak bergerak dari embiro masih embrio saja ada, yang berkembang malah tidak maju juga ada, bahkan kalau diteliti mungkin ada banyak desa yang masih embrio," katanya.

Kwintarto mengatakan, bahkan pergerakan desa wisata yang tidak seimbang dalam satu kawasan sangat memungkinkan terjadi, seperti contoh kawasan GMT (Gabusan, Manding dan Tembi) yang berada dalam satu kawasan jalur wisata atau Jalan Parangtritis.

"Kalau berbicara GMT itu yang Gabusan saya anggap gagal, tapi Manding dengan wisata belanja kerajinan kulit dan Tembi dengan `home stay` itu relatif bagus, dan kunjungan wisatawannya cukup banyak dan produktif, masyarakat menikmati dan itu yang saya sebut sehat," katanya.

Ia juga mengatakan, ada satu desa wisata yang sudah maju bahkan dikenal wisatawan mancanegara yaitu Desa Wisata Kasongan dengan kerajinan gerabah, namun di desa wisata lain yang tidak jauh dari Kasongan seperti Jipangan perkembangan masih jauh.

"Tentunya ini yang masih menjadi `PR` (pekerjaan rumah) kita yang haris bisa kita selesaikan bersama, karena itu satu komplek hanya satu titik yang produktif. Dan kita itu ada forum, sehingga akan coba inventarisasi apa saja masalahnya," katanya.

(KR-HRI)
Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar