Kemenko PMK diseminasikan pedoman penanganan zoonosis

id flu burung

ILustrasi (Foto Antara)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Kementerian Koordinasi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan mendiseminasikan pedoman koordinasi lintas sektor menghadapi KLB/wabah zoonosis dan penyakit infeksi emerging bersama para akademisi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Selasa.

"Sebelum pedoman ini disahkan oleh Menko PMK, seperti biasa kita melaksanakan desiminasi publik untuk meminta pendapat lintas sektoral dan pihak perguruan tinggi, khususnya UGM," kata Staf Ahli Kemenko PMK Bidang Sustainable Development Goals Pasca 2015, Ghafur Akbar Dharmaputra di Balai Senat, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Selasa.

Dalam acara Pre Launching dan Seminar Publik tentang Pedoman Koordinasi Lintas Sektor Menghadapi KLB/Wabah Zoonosis dan Penyakit Infeksi Emerging itu, Ghafur menjelaskan bahwa landasan disusunnya pedoman koordinasi dikarenakan tingginya risiko penyakit yang berpotensi menjadi wabah dan adanya berbagai kebijakan yang dimiliki kementerian/lembaga yang sulit diterapkan ketika berkoordinasi dilapangan saat terjadi wabah.

"Ini akan menjadi pedoman kita nanti ketika berkoordinasi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah," kata dia.

Ia mengatakan bahwa yang menjadi dasar penyusunan buku pedoman koordinasi itu adalah Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 116 tahun 2016 tentang Pembubaran Lembaga Non Struktural dan salah satu lembaga yang dibubarkan yakni Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis.

"Pasca dibubarkannya Komnas zoonosis ini menjadi PR bagi Kemenko PMK untuk melaksanakan tindaklanjutnya dan sejak 2016 Kemenko PMK telah menyusun buku pedoman yang akan kita pre launching ini," kata dia.

Terkait dengan zoonosis serta penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB serta menular, menurut dia, akan menjadi persoalan bangsa yang bukan hanya melibatkan koordinasi lintas kementerian/lembaga tetapi menjadi koordinasi lintas Kemenko.

Wakil Direktur Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) Ryan Washburn mengatakan dua pertiga dari semua penyakit menular pada manusia berasal dari hewan. Patogen yang berpotensi berbahaya ini mestinya harus diidentifikasi dan hewan yang terinfeksi diobati sebelum menjadi ancaman bagi kesehatan manusia dan keamanan kesehatan global.

"Sebagai contoh di Afrika Barat wabah Ebola telah memengaruhi sekitar 30 ribu orang, dan 11 ribu di antaranya mengalami kematian. Hal ini tentu merusak sistem kesehatan, ekonomi dan masyarakat," kata dia.

Oleh sebab itu, menurut Ryan, Pemerintah Indonesia harus terus berusaha untuk meningkatkan koordinasi lintas sektor dengan melibatkan lembaga nasional dan internasional dalam pencegahan dan pengendalian zoonosis serta penyakit menular emerging.

"Dengan bekerjasama kita dapat memperkuat sistem kesehatan hewan, satwa liar dan manusia agar dapat melacak dan merespon kejadian luar biasa dengan baik," kata dia.

Sementara itu, Rektor UGM Panut Mulyono mengapresiasi Kemenko PMK dan "One Health Collaborating Center (OHCC)" UGM karena mengangkat isu yang memungkinkan bekerja lintas sektoral dalam menangani berbagai bidang strategis di bidang kesehatan.

Menurut dia, zoonosis dan penyakit infeksi emerging merupakan ancaman yang serius pada kesehatan masyarakat. Untuk melakukan kontrol dan mitigasi ancaman zoonosis maka konsep "one health" yang menekankanpada sistem thinking, kolaborasi, dan trans disiplin harus ditonjolkan. 
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar