Pelaku penyerangan gereja mempelajari kekerasan dari internet

id polri

Polri (Foto Istimewa)

Jakarta (Antaranews Jogja) - Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto mengemukakan bahwa tersangka Suliyono (22), pelaku penyerangan Gereja Santa Lidwina, Jambon Trihanggo, Gamping, Kabupaten Sleman, Daearh Istimewa Yogyakarta, mempelajari kekerasan dari internet.

"Dia belajar tentang teror dan penyerangan dari internet," kata Irjen Setyo di Mabes Polri, Jakarta, Selasa.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara diketahui Suliyono tidak berafiliasi dengan jaringan teroris manapun.

"Sejauh ini, pelaku adalah 'lone wolf'," katanya.

Menurut Setyo, Suliyono pernah mengenyam pendidikan SMP di Banyuwangi, Jawa Timur, SMA di Morowali, Sulawesi Tengah, dan kuliah di salah satu perguruan tinggi di Palu, Sulawesi Tengah.

Menurut Setyo, dalam rentang waktu tersebut Suliyono pernah mengikuti beberapa kegiatan organisasi keagamaan.

Sebelum melancarkan aksinya pada Minggu (11/2) di Gereja Lidwina, Suliyono sempat masuk pesantren di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Selanjutnya Suliyono berencana pulang ke Banyuwangi dengan singgah di Yogyakarta terlebih dahulu.

Saat singgah di Yogyakarta, Suliyono menginap di mushola selama tiga hari.
 
"Transit di Yogya, dia melihat-lihat di internet di mana gereja yang dekat-dekat situ," katanya.

Sebelumnya, seseorang tak dikenal menyerang Gereja Santa Lidwina, Jambon Trihanggo, Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada saat umat Katolik melaksanakan ibadah Misa, Minggu (11/2) pagi.

Tiga orang terluka berat dalam kejadian tersebut. Dua orang anggota jemaat gereja bernama Yohanes dan Budijono serta seorang pastor asal Jerman bernama Romo Karl Edmund Prier, SJ.

Pelaku yang belakangan diketahui bernama Suliyono (22), warga Krajan RT 02 RW 01 Kandangan, Pesanggrahan Banyuwangi, Jawa Timur ini akhirnya dilumpuhkan polisi karena tetap melawan.

Pelaku dibawa ke RS untuk menjalani perawatan. Sementara para korban dibawa ke RS Panti Rapih, Sleman.
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar