SSB diharapkan mampu menjadi agen penanggulangan bencana

id Sekolah siaga bencana

Ilustrasi (Foto Antara)



Sleman (Antaranews Sekolah - Sekolah Siaga Bencana (SSB) di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, diharapkan mampu menjadi agen penanggulangan kebencanaan tidak hanya di lingkungan sekolah namun juga di lingkungan masyarakat.


"Sekolah Siaga Bencana (SSB) harus mampu menjadi agen penanggulangan bencana tidak hanya di lingkungan sekolah namun juga di lingkungan masyarakat," kata Staf Ahli Bupati Sleman bidang Pemerintahan dan Hukum Mustain Aminun pada gladi lapang penanggulangan bencana di SMP Negeri 4 Kalasan, Selasa.


Menurut dia, dengan terbentuknya SMP Negeri 4 Kalasan sebagai SSB, di Sleman sudah terbentuk 49 Sekolah Siaga Bencana.


"Pada 2018 Sleman mentargetkan terbentuknya 8 SSB baru. Pembentukan SSB penting karena dalam setiap mitigasi bencana dibutuhkan partisipasi dari semua pihak bukan hanya dari tim relawan namun juga seluruh komponen masyarakat termasuk di antaranya adalah pelajar," katanya.


Ia mengatakan, pelajar juga harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi bencana dengan harapan kesiapsiagaan tersebut dapat bermanfaat dalam mengantisipasi jatuhnya korban jiwa.


"Kabupaten Sleman merupakan daerah yang diberi anugerah Tuhan dengan berbagai potensi yang dimiliki. Namun, di balik itu, dari komposisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis, Sleman menyimpan potensi bencana yang diakibatkan faktor alam maupun nonalam. Karena itu diharapkan semua elemen masyarakat mengerti dan memahami bagaimana menanggulangi dan menjadi tangguh dalam mitigasi dan penanganan bencana," katanya.


Paradigma penanggulangn bencana, kata dia, tidak lagi dititikberatkan pada penanganan kedaruratan, namun lebih pada upaya pengurangan risiko bencana, menuntut ada kesiapsiagaan masyarakat termasuk sekolah.


"Mitigasi bencana harus menjadi bagian dari budaya dan kearifan lokal masyarakat Sleman. Oleh karena itu pembinaan dan pelatihan cara penanggulangan bencana harus dimulai sejak dini. Mitigasi bencana harus diperkenalkan dan diajarkan di bangku sekolah, bahkan sejak jenjang yang paling bawah. Siswa-siswa sangat perlu diberi pemahaman dan pembinaan bagaimana cara penanggulangan dan mitigasi bencana," katanya.


Ia mengatakan, melalui program sekolah siaga bencana, guru-guru dan siswa mampu menjadi agen maupun pelaku dalam penanggulangan bencana yang harapannya juga mampu secara aktif menggerakkan masyarakat di lingkungannya.


"Saat ini di Sleman juga sudah memiliki desa tangguh bencana. Untuk Desa Tangguh Bencana sampai saat ini sudah ada sebanyak 36 desa yang tersebar di seluruh wilayah Sleman. Dan 2018 ini Sleman menargetkan jumlah Desa Tangguh Bencana akan bertambah sebanyak 8 desa," katanya.


Plt Kepala BPBD Kabupaten Slemabn Suratini mengatakan maksud dan tujuan diadakannya gladi lapang penanggulangan bencana tersebut untuk melindungi warga sekolah yang tinggal di kawasan rawan bencana, meningkatkan peran serta warga sekolah khusunya kelompok rentan, dalam pengelolaan sumber daya dalam rangka mengurangi risiko bencana.


"Selain itu untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan warga sekolah dalam pengelolaan sumber daya dan pemeliharaan kearifan lokal bagi pengurangan risiko bencana," katanya.


Dalam gladi lapang tersebut digambarkan sepuluh siswa mengalami luka berat dan ringan, dua siswa mengalami patah tulang kaki dan tangan lainnya mengalami luka lecet dan memar akibat gempa bumi yang terjadi Selasa (20/2).


Gempa bumi dengan 5,5 Skala Richter tersebut membuat sebagian gedung sekolah SMP Negeri 4 Kalasan mengalami kerusakan yang cukup parah. Gempa yang terjadi saat berlangsungnya jam belajar mengajar tersebut membuat beberapa atap ruangan roboh yang mengakibatkan sebagian siswa tertimpa puing bangunan.


Siswa yang mengalami luka berat patah tulang langsung dirujuk ke rumah sakit terdekat, sementara yang luka ringan dirujuk ke Puskesmas Kalasan, dan yang hanya mengalami memar-memar langsung dipulangkan oleh pihak sekolah.


Masih beruntung sebagian siswa dengan sigap begitu terjadi gempa bumi langsung menyelamatkan diri keluar ruangan dan sebagiaan berlindung dibawah meja, hingga korban yang lebih banyak bisa terhindarkan.


Gladi lapang tersebut diikuti oleh siswa dan tenaga pendidik/adminsitrasi sekolah setempat, yang juga melibatkan relawan.





(U.V001) 20-02-2018 15:22:08
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar