Pejabat PBB: keragaman hayati menghilang dengan cepat

id pbb

Pejabat PBB: keragaman hayati menghilang dengan cepat

Gedung PBB di New York (Foto beritahankam.blogspot.com)

 PBB, New York (Antaranews Jogja/Xinhua-OANA) - Keragaman hayati menghilang seribu kali kecepatan alamiah, demikian peringatan Wakil Sekretaris Jenderal PBB Amina Mohammed pada Jumat (2/3).

        Ketika berbicara dalam acara untuk memperingati Hari Margasatwa Dunia --yang jatuh pada 3 Maret, wanita pejabat tersebut menyerukan upaya gabungan konsumen, masyarakat, pembuat kebijakan dan pengusaha untuk memelihara keragaman hayati Planet Bumi, yang berharga dan rentan.

        Untuk Hari Margasatwa Dunai tahun ini, pusat perhatian tertuju pada berkurangnya jumlah kucing besar --termasuk spesies seperti cheetah, macan kumbang, macan tutul, singa, puma, macan tutul salju dan harimau.

        Amina Mohammed mengatakan kucing besar telah mengalami kemerosotan tajam belakangan ini, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu pagi. Cuma lebih dari satu abad lalu, ada tak kurang dari 100.000 harimau liar di Asia. Tapi hari ini, kurang dari 4.000 harimau tersisa. Hewan tersebut telah kehilangan 96 persen kehadiran sejarah mereka, katanya.

        Kondisi serupa dialami oleh semua kucing besar, demikian peringatan wanita pejabat itu. "Orang mengatakan kucing memiliki sembilan nyawa. Kucing besar kita setidaknya berada pada nomor delapan."
   Kucing besar adalah spesies yang paling penting. Melindungi hewan tersebut juga berarti melindungi habitat yang luas tempat mereka hidup dan bermacam nyawa yang bergantung pada hewan itu, kata Amina Mohammed.

        Ia menyerukan paradigma baru bagi pelestarian dan penanganan habitat secara berkelanjutan --paradigma yang mengakui pertumbuhan ekonomi bukan berada pada konflik langsung dengan pelestarian.

        Keduanya dapat dan mesti hidup berdampingan, kata Amina Mohammed. "Tanpa pembangunan masyarakat yang berkelanjutan, perburuan gelap dan pedagangan secara tidak sah takkan sepenuhnya bisa dihapuskan dan keragaman hayati takkan dilindungi."
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar