Taman Glugut Bantul akan dikembangkan wisata edukasi

id Pemkab bantul

Pemda Kabupaten Bantul (Foto Antara / Mawarudin/ags/14)

Bantul (Antaranews Jogja) - Taman Glugut Desa Wonokromo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta akan dikembangkan menjadi taman wisata edukasi guna menambah daya tarik destinasi wisata berbasis masyarakat itu.

"Kami punya target kalau taman Glugut ini nantinya menjadi taman wisata edukasi, sehingga orang yang berkunjung tidak hanya sekadar senang-senang tapi mendapat pengetahuan baru," kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Wonokromo Nurfi Agus Subekti di Bantul, Minggu.

Menurut dia, ide untuk menjadikan Taman Glugut sebagai taman wisata edukasi itu karena pengelola ingin mengoptimalkan potensi yang ada di kawasan yang banyak terdapat pohon bambu dengan berbagai jenis bibit dan manfaatnya.

Ia menyebut, saat ini di Taman Wisata yang dibuka untuk wisatawan sejak awal Januari 2018 terdapat 11 jenis pohon bambu, dan rencana akan ditambah sebanyak 30 jenis pohon bambu ditanam di lahan yang masih tersisa di sekitar taman.

"Jadi edukasi itu terkait dengan bambu, sehingga nanti semua jenis pohon bambu di Taman Glugu ini kita beri nama dan fungsinya untuk apa, kemudian di dekat bambu itu ada produk olahan bambu, misalnya kerajinan," katanya.

Selain terkait bambu, lanjut dia, di Taman Glugut yang berada di tepi sungai Opak yang dilengkapi wisata perahu susur sungai ini juga ditambah wahana permainan anak tradisional untuk mengenalkan kepada anak-anak yang berkunjung ke taman.

Namun demikian, kata dia, pengembangan dan penataan kawasan wisata Taman Glugut ini masih akan dikomunikasikan lebih lanjut dengan para pemangku kepentingan termasuk Pemda yang sedang menyusun master plan wisata Taman Glugut.

"Tentunya nanti pengelolaa wisata Taman Glugut nanti akan bergabung dengan masyarakat di dua desa lain, karena nanti pengembangan juga meluas ke wilayah Trimulyo Jetis dan Segoroyoso Pleret," katanya.

Menurut dia, sebelum dibuka menjadi objek wisata Taman Glugut, kawasan tersebut sebelumnya merupakan pekarangan warga tidak terurus, kumuh dan tidak ada aktivitas warga, bahkan setiap hari warga setempat sering menjumpai ular di lahan tersebut.

"Awalnya kita tidak menyangka kalau setelah kita coba buka kok ternyata ramai dikunjungi masyarakat yang membawa keluarga untuk bersantai, bahkan kalau hari Minggu penuh wisatawan, makanya kita menangkap peluang itu," katanya.

(T.KR-HRI)
Pewarta :
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar