JIFFINA memfasilitasi pembeli mancanegara tinjau pembuatan mebel

id buyer mebel,pembuatan mebel

Para pembeli mancanegara meninjau langsung proses pembuatan mebel dan kerajinan melalui program "Factory Visit" ke sejumlah pabrik atau showroom para peserta pameran. (Foto ANTARA/Hamdalah Akbar Prasetyo/mg.yk/ags)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia 2018 memfasilitasi para pembeli mancanegara meninjau langsung proses pembuatan mebel dan kerajinan melalui program "Factory Visit" ke sejumlah pabrik atau showroom para peserta pameran.

Pembeli asal Jerman, Victoria saat diantar mengunjungi pabrik mebel PT Kharisma Eksport di Jalan Parangtritis, Bantul, Senin, mengaku puas bisa melihat langsung seluruh tahap pembuatan mebel karena dengan melihat langsung bisa memastikan kualitas produk mebel yang akan dibeli.

"Ini sangat membantu saya untuk mengetahui proses pembuatan mebel secara langsung sebelum memutuskan membeli," kata dia yang datang bersama rombongan.

Menurut Victoria, bisa melihat langsung proses pembuatan mebel menjadi salah satu alasan memilih datang ke Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia (Jiffina) 2018. Fasilitas Factory Visit, katanya, belum tentu dijumpai di pameran serupa lainnya.

"Saya kira ini cara yang baik dan bisa menarik lebih banyak `buyer` baik dari Uni Eropa maupun Amerika Serikat (AS)," kata dia.

Bagi Victoria, proses pembuatan produk mebel yang sehat menjadi faktor yang sangat diperhitungkan. Bukan hanya untuk mengetahui kualitas bahan baku, bahkan tenaga kerja yang dilibatkan menjadi perhatiannya.

"Kami dari Jerman tidak suka melihat anak-anak dipekerjakan dan dengan melihat langsung saya telah memastikan di sini tidak ada pekerja anak yang dilibatkan dalam produksi mebel," katanya.

Sementara itu, pembeli asal Australia, Chris mengakui bahwa produk mebel Indonesia, khususnya Yogyakarta cukup dikenal di negaranya. Yogyakarta, katanya, memiliki banyak ragam mebel berbahan baku kayu daur ulang yang kini memiliki pangsa pasar cukup bagus di Australia.

"Yang saat ini cukup laku untuk pasar Australia adalah produk daur ulang. Produk itu banyak kami temukan di Yogyakarta dengan proses pembuatan yang sempurna," kata Chris.

Ia mengaku lebih diuntungkan karena dapat bertransaksi dengan para pengusaha atau produsen secara langsung. "Dari sisi harga di sini cukup bagus," kata Chris.

Ketua OC Jiffina 2018, Endro Wardoyo mengatakan "Factory Visit" merupakan program andalan Jiffina sejak kali pertama dihelat pada 2016. Panitia selalu menyediakan armada transportasi untuk mengantar para "buyer" ke showroom atau pabrik milik produsen mebel dan kerajinan setiap saat selama pameran berlangsung.

Konsep itu, menurut dia, akan terus diterapkan pada penyelenggaraan Jiffina pada tahun-tahun berikutnya. "Karena hal itu keunggulan kami," kata dia.

Penyelenggaraan Jiffina 2018 yang berlangsung 10-13 Maret di Jogja Expo Center itu ditargetkan dikunjungi 4.000 buyer dengan membukukan transaksi 100 juta dolar AS.

Jumlah peserta yang memadati gerai-gerai pameran di ruangan seluas 8.670 meter persegi itu mencapai 300 peserta pengusaha mebel dan kerajinan se-Jawa dan Bali atau mengalami peningkatan signifikan dibandingkan dengan Jiffina 2017 yang diikuti 260 peserta.
(T.L007) 12-03-2018 16:37:07
Pewarta :
Editor: Agus Priyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar