Akses penerbangan menjadi kendala menggaet turis Vietnam

id pesawat

Ilustrasi (Foto antaranews.com)

Hanoi (Antaranews Jogja) - Kementerian Pariwisata menilai salah satu kendala utama dalam menggaet wisatawan asal Vietnam datang ke Indonesia adalah keterbatasan dalam akses penerbangan.

         "Keterbatasan penerbangan sebaiknya harus cepat diatasi agar dapat meningkatkan arus kunjungan wisatawan bagi kedua negara," kata Kepala Bidang Pemasaran Area IV wilayah Indochina, Kementerian Pariwisata, Heri Hermawan, kepada Antara di Hanoi, Vietnam, Jumat.

         Menurutnya, saat ini penerbangan langsung rute Jakarta-Ho Chi Minh City hanya dilayani Vietnam Airlines dan Garuda Indonesia, dengan frekuensinya hanya satu kali sehari, demikian sebaliknya dari Ho Chi Minh City ke Jakarta.

         Sedangkan jika ingin terbang dari Jakarta ke Hanoi, Ibu Kota  Vietnam, harus terlebih dahulu transit di Ho Chi Minh City atau Singapura, Kuala Lumpur yang membutuhkan waktu penerbangan 8-9 jam.

         "Ini membutuhkan waktu lama. Sehingga menjadi kendala yang harus dipertimbangkan para wisatawan," katanya.

         Ia menjelaskan, kendala penerbangan tersebut mengakibatkan turis asal Vietnam lebih memilih berlibur ke Singapura, Hong Kong, Thailand, China dan Korea, karena lebih efisien dari sisi waktu dan biaya.

         Sesungguhnya, ujar Heri, Kemenpar telah berkoordinasi dengan pihak terkait, seperti Kementerian Perhubungan, maskapai penerbangan, otoritas bandara, Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II untuk membuka jalur Vietnam langsung ke destinasi wisata, seperti Bali, Yogyakarta.

         Namun sejauh ini belum terealisasi,  padahal rute penerbangan langsung dari Vietnam ke kota-kota besar yang menjadi tujuan wisata di Indonesia mendesak untuk dibuka.

         Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Vietnam Ibnu Hadi mengatakan potensi hubungan bilateral Indonesia dengan Vietnam semakin erat sehingga dimungkinkan mengembangkan kerja sama terutama dari sisi pariwisata.

         Ia menjelaskan, tingkat ekonomi Vietnam yang selalu tumbuh di atas 6-7 persen per tahun mengakibatkan jumlah penduduk berpenghasilan menengah ke atas di negara itu terus bertambah.

         "Di Vietnam saat ini banyak bermunculan OKB (orang kaya baru), kalangan ini pasti memiliki keinginan yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan tersier berupa kunjungan atau melancong ke luar negeri, " ujarnya.

         Ibnu juga mengakui keterbatasan akses penerbangan langsung menjadi kendala utama meningkatkan arus wisatawan ke kedua negara yang harus secepatnya dicarikan solusi.

         Meski begitu, Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata tetap memasang tinggi target jumlah kunjungan wisatawan Vietnam ke Indonesia selama tahun 2018 sekitar 74.000 orang, meningkat dibanding tahun 2017 yang diproyeksikan sekitar 64.000 orang.
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar