
PBB meninjau kawasan rumah pangan Kulon Progo

Kulon Progo, 13/4 (Antara) - Tim Pelapor Dewan HAM Persatuan Bangsa-Bangsa untuk Hak atas Pangan meninjau Kawasan Rumah Pangan Lestari Kelompok Wanita Tani (KWT) Seruni Menoreh Indah di Dusun Nglambur, Desa Sidoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
"Saya baru sadar kenapa harus ke Kulon Progo karena ternyata tempatnya bagus. Saya harus meniru karena mempunyai pekarangan yang luas tetapi tidak dimanfaatkan. Saya sampai rumah akan meniru dan akan belajar bagaimana caranya bisa seperti di Kulon Progo," kata Koordinator Tim Pelapor Dewan HAM PBB untuk Hak atas Pangan Hilal Elver di Kulon Progo, Jumat.
Hilal mengaku dirinya terkesan dengan masyarakat di Nglambur. Dirinya berharap mereka bisa menjaga kearifan lokal dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sekarang ini agar jangan sampai tergerus kemajuan globalisasi.
"Menjaga kearifan lokal itu penting sekali agar tidak tergerus era globalisasi. Ini merupakan ilmu dari orangg tua, seperti slogan Kulon Progo `Kalau Bisa Tanam Kenapa Harus Beli`," katanya.
Hilal Elver terkesan dengan perempuan petani muda masih mengusahakan pertanian, sedangkan di tempat lain banyak anak muda merasa pertanian itu bukan sesuatu yang keren. Semangat bertani agar terus ditularkan kepada anak-anak agar mereka melanjutkan pada masa depan.
"Anak-anak tetap sekolah, tetapi mereka tetap bersemangat dengan pertanian. Kita pastikan dimana pun mereka berada akan tetap mengusahakan pertanian atau ketika mereka tidak kembali ketika kehidupan memanggil mereka di tempat lain, maka akan tetap mengusahakan pertanian dimana pun berada," harap Hilal Elver.
Hilal Elver mengaku senang melihat contoh di KWT Seruni Menoreh Indah (SEMI) karena sekarang orang tidak bisa memberi alasan apa pun karena di lahan sempit bisa diupayakan untuk menanam sayuran.
"Di negara barat seperti Amerika Serikat dan Eropa,kembali bertani itu sesuatu yang sedang booming, lagi trendi, orang-orang membikin kebun kecil di balkon apartemen, mereka baru memulai, sementara di KulonProgo sudah melakukannya sejak lama," katanya.
Wakil Bupati Kulon Progo Sutedjo mengatakan prinsip Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) memanfaatan pekarangan ramah lingkungan yang dirancang untuk ketahanan dan kemandirian pangan, diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal, konservasi sumberdaya genetik pangan seperti tanaman, ternak, ikan, menjaga kelestarian melalui kebun bibit desa menuju peningkatan pendapatan, dan kesejahteraan masyarakat.
Pemkab Kulon Progo mengembangkan KRPL untuk mengentaskan desa rawan pangan. Sebelumnya di Kulon Progo terdapat 36 desa rawan pangan, namun sekarang tinggal enam desa yang tersebar di Kecamatan Sentolo, Kokap, Girimulyo, dan Samigaluh.
Menurut Sutedjo, KRPL sangat efektif mempercepat pengentasan desa rawan pangan. Saat ini di Kulon Progo terdapat 35 unit KRPL yang tersebar di 12 kecamatan. Pengembangan KRPL berasal dari APBD kabupaten 30 unit dan APBN sebanyak lima unit.
"Pada 2018 Pemkab Kulon Progo menargetkan menambah 15 KRPL rinciannya 10 KRPL dibangun menggunakan APBD, sisanya lewat APBN," katanya.
(T.KR-STR)
Pewarta : Sutarmi
Editor:
Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
