Pengamat: Pertamina mendesak bangun kilang baru

id kilang minyak, pertamina

ILustrasi. Kilang minyak (Foto antaranews.com)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Pengamat energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi mengatakan PT Pertamina (Persero) di bawah kepemimpinan yang baru perlu mempercepat pembangunan kilang minyak untuk menutup kebutuhan BBM dalam negeri dan mengurangi impor.

"Untuk penambahan kilang saya kira sudah tidak bisa diundur-undur lagi," kata Fahmy di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia, konsumsi BBM di dalam negeri sudah mencapai 1,6 juta barel per hari, sedangkan kapasitas kilang yang terpasang saat ini hanya mencapai 900 ribu barel per hari sehingga untuk menutup kebutuhan masih harus impor BBM yang mencapai 700 ribu barel per hari.

"Dengan demikian kebutuhan impor hampir mencapai 50 persen dari total konsumsi," kata dia.

Oleh sebab itu, menurut dia, di bawah kepemimpinan direksi yang baru PT Pertamina perlu melakukan terobosan untuk menekan impor BBM di antaranya dengan mempercepat penambahan kilang. Penambahan kilang perlu dilakukan mengingat kilang-kilang minyak yang eksisting saat ini telah berusia usia tua.

Selain menekan ketergantungan impor BBM, menurut Fahmy, penambahan kilang baru mempersempit ruang bagi para pemburu rente atau mafia migas.

"Berkurangnya impor BBM bisa mencegah ruang bagi para pemburu rente yang biasanya bermain pada impor BBM," kata mantan Satgas Anti Mafia Migas ini.

Sebelumnya, pemerintah berkomitmen memberikan insentif fiskal kepada PT Pertamina (Persero) guna mendukung percepatan pembangunan dan pengembangan kilang minyak.

Selain empat kilang yang akan direvitalisasi, Pertamina juga akan membangun dua kilang baru, yakni Kilang Tuban dan Bontang.

 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar