Komisi Pengairan diminta mengevaluasi penutupan Irigasi Kalibawang

id irigasi

Komisi Pengairan diminta mengevaluasi penutupan Irigasi Kalibawang

Ilustrasi. saluran irigasi pertanian (Foto antaranews.com)

Kulon Progo (Antaranews Jogja) - Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Suharmanto meminta Komisi Pengairan Kulon Progo mengevaluasi kembali penutupan saluruan irigasi Kalibawang.

Suharmanto di Kulon Progo, Senin, mengatakan bahwa penutupan saluran irigasi Kalibawang tidak tepat waktu.

Pada saat ini, kata Suharmanto, petani di Kecamatan Nanggulan, Sentolo, dan Pengasih yang mengandalkan irigasi Kalibawang sudah melakukan penanaman padi 1 bulan yang lalu.

"Saya menilai penutupan saluran irigasi Kalibawang perlu dievaluasi. Pada waktu petani butuh air, justru saluran irigasi Kalibawang ditutup," katanya.

Ia mengatakan bahwa petani berusaha menjaga tanaman padi tetap hidup dengan melakukan segala cara, antara lain, mengandalkan pompa air dengan biaya bahan bakar minyak yang tidak sedikit.

Kalau melihat angka produk domestik regional bruto (PDRB) Kulon Progo, katanya lagi, tertinggi dari sektor pertanian. Oleh karena itu, kebijakan yang menyebabkan turunnya produksi pertanian seharusnya hati-hati.

"Saya mohon saluran irigasi Kalibawang dapat segera dibuka kembali," katanya.

Suharmanto mengatakan bahwa dirinya meninjau langsung proyek irigasi yang sedang dikerjakan di Dusun Duwet, Banjarharjo, Kalibawang. Di tempat itu ada perbaikan selokan dengan pemasangan cor bronjong kawat dan dicor. Hal ini sebenarnya bisa diundur waktunya.

Jika dibandingkan dengan saluran irigasi Selokan Mataram (Sleman) dan saluran irigasi Van Der Wijk yang menuju Bantul, airnya melimpah. Komisi Pengairan Kulon Progo perlu belajar manajemen penggunaan air di saluran Selokan Mataram dan Van Der Wijk.

Pada saluran tersebut, pembersihannya dilakukan setiap Selasa, selebihnya mengalir. "Tetangga Kabupaten Sleman dan Bantul, petani lebih makmur," katanya.

Menurut dia, perbaikan yang sering di saluran irigasi Kalibawang memang tidak bisa dikesampingkan karena faktor medan yang lebih berat di Kulon Progo. Walaupun demikian, jangan jadi proyek abadi yang setiap tahun polanya sama, harus menutup dan mematikan saluran irigasi Kalibawang.

Kalau dibandingkan saluran Selokan Mataram dan Van Der Wijk dengan saluran irigasi Kalibawang lebih banyak dilakukan perbaikian saluran Kalibawang.

"Ke depan, kalau bisa, membuat bendungan baru untuk memanfaatkan air Sungai Progo," katanya.

Kepala Seksi Produksi Tanaman Pangan Bidang Tanan Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo Wazan Mudzakir mengatakan bahwa penutupan irigasi Kalibawang mulai 15 April hingga akhir Juli 2018 atau sekitar 3,5 bulan.

"Luas lahan sawah yang memasuki taman seluas 1.632 hektare, yang mayoritas berada di Kecamatan Sentolo. Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo sudah melakukan sosialisasi kepada petani. Namun, mereka tetap akan menanam padi," kata Wazan.

Ia menegaskan bahwa penutupan itu menindaklanjuti rapat Komisi Irigasi Kulon Progo, ada rehabilitasi saluran induk irigasi Kalibawang yang dilakukan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO). Awalnya, saluran induk irigasi Kalibawang akan dilakukan rehabilitasi besar-besaran karena adanya kerusakan jaringan Tawang Bowong.

Pada tahun ini, kata dia, BBWSSO minta waktu 3,5 bulan yang dimulai 15 April sampai 31 Juli 2018.

Menurut dia, dengan dimatikan jaringan sistem irigasi Kalibawang, lahan seluas 3.936 hektare di wilayah Kulon Progo tidak mendapat air.

Ia menyebutkan jaringan sistem irigasi Kalibawang meliputi Kejuron atau Gabungan P3A Papah, Donomulyo Hilir, wilayah Kejuron/GP3A Pekik Jamal Kiri dan Pekik Jamal Kanan.

Namun, untuk wilayah Kejuron/GP3A Pekik Jamal Kiri dan Pekik Jamal Kanan, lanjut dia, mendapat pasokan air dari Waduk Sermo sehingga bisa melakukan tanam. Adapun Kejuron atau Gabungan P3A Papah dan Donomulyo Hilir dengan luas lahan 1.632 hektare sama sekali tidak mendapat pasokan air.

"Petani tetap menanam padi. Mereka berencana menggunakan sumur bor atau mata air terdekat dan mengandalkan hujan. Saya tidak bisa melarang mereka tidak menanam padi," katanya.



 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar