Dosen UBL kembangkan model peramalan kasus DBD

id Dosen UBL ,Dbd

Dosen FTI Univeritas Budi Luhur Jakarta Deni Mahdiana meraih gelar doktor di Fakultas MIPA UGM Yogyakarta. (Foto Antara)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Dosen Fakultas Teknologi Informasi Universitas Budi Luhur Jakarta Deni Mahdiana mengembangkan model peramalan jumlah kasus dan pola distribusi penyebaran penyakit demam berdarah dengue menggunakan kombinasi metode Vector Autoregressive dan Spatial Autocorrelation (Varsa).

"Model itu menggunakan data suhu maksimal, suhu rata-rata, curah hujan, lama penyinaran matahari, jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD), dan data tingkat kepadatan penduduk per kecamatan," kata Deni saat memaparkan disertasinya di Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Senin.

Dalam paparan disertasinya berjudul "Model Peramalan Jumlah Kasus dan Pola Distribusi Penyebaran Demam Berdarah Dengue", Deni mengatakan penelitian itu bertujuan memodifikasi metode peramalan pola distribusi penyebaran DBD "spatial autocorrelation".

Modifikasi itu menggunakan metode Modified Moran`s I Spatial Autocorelation (MMSA) dengan memasukkan data tingkat kepadatan penduduk dalam matriks pembobotan spasial.

"Metode tersebut bisa memprediksi hingga 88 persen akurasi peramalan sebaran DBD atau penyakit menular lainnya di sebuah daerah. Hasil penelitian itu akan dijadikan aplikasi berbasis Android," katanya.

Menurut dia, manfaat yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah membantu Dinas kesehatan dalam membuat perencanaan yang matang untuk pencegahan meningkatnya jumlah kasus dan pola distribusi penyebaran DBD di masa mendatang.

"Perencanaan tersebut diperlukan agar tidak terjadi masalah seperti keterlambatan tindakan pencegahan, bertambahnya korban jiwa, dan kurangnya ruangan serta petugas untuk penanganan pasien DBD," kata Wakil Dekan Bidang Riset, PPM, dan Kemahasiswaan Fakultas Teknologi Informasi Universitas Budi Luhur (UBL) itu.

Ia mengatakan, DBD atau disebut juga Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) banyak ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis. Data dari seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita DBD setiap tahunnya.

Sementara itu, terhitung sejak 1968 hingga 2009, World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara. Rendahnya kemampuan dalam mengantisipasi kejadian DBD disebabkan beberapa faktor.

"Beberapa faktor itu antara lain waktu, tempat, dan angka kejadian belum dapat prediksi dengan baik, belum tersedianya indeks dan peta kerentanan wilayah berdasarkan waktu kejadian, serta belum tersedianya model peramalan kejadian penyakit DBD yang dapat diandalkan," kata Deni.

Dalam ujian terbuka tersebut Deni dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dan berhak menyandang gelar doktor ilmu komputer. Hadir pada ujian terbuka tersebut Pendiri Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti Djaetun HS, Rektor UBL Prof Didik Sulistyanto, dan Ketua BPH Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti Kasih Hanggoro.

(U.B015)
Pewarta :
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar