Kemenag DIY minta penceramah sebarkan kelembutan Islam

id Penceramah,Kemenag

Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag DIY Lutfi Hamid saat ditemui di ruang kerjanya di Kanwil Kemenag DIY, Rabu. (Foto Antara/Luqman Hakim)

Yogyakarta (Antaranews Jogja)- Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta meminta kepada seluruh da'i atau penceramah menyebarkan nilai-nilai Islam yang menyejukkan dan lemah lembut selama Bulan Ramadhan.
 
"Kami berharap kepada para khatib, da'i, atau mubaligh mohon sampaikanlah ajaran Islam yang lembut karena melalui kelembutan itulah sesungghnya akan banyak orang bersimpati terhadap penanaman  nilai agama itu," kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DIY Lutfi Hamid saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu.

 Menurut Lutfi, pesan-pesan yang lembut antara lain berupa ajaran yang menegaskan bahwa Islam merupakan agama damai dan memberikan ruang yang luas terhadap toleransi. 
 
"Islam adalah agama yang damai yang memberikan ruang untuk toleransi karena pada dasarnya Islam adalah 'ummatan wasathan' (umat tengah-tengah), dia tidak condong ke kiri dan tidak  condong ke kanan," kata dia.
 
Menurut dia, penceramah memiliki peran penting dalam penanaman nilai-nilai Islam yang benar. Mereka juga sekaligus dapat berperan memperkuat penanaman ideologi Pancasila serta kewarganegaran masyarakat serta mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan.
 
"Karena sesungguhnya Rasul diturunkan ke muka bumi ini adalah untuk mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan," kata dia.
Masih tipisnya kesadaran kewarganegaraan dan nasionalisme masyarakat, menurut dia, juga memberikan ruang bagi masuknya paham-paham radikal. 

 Aksi teror bom yang dilakukan satu keluarga seperti yang terjadi di Surabaya merupakan salah satu dampak lemahnya penanamam nilai kewarganegaraan, selain pemahaman agama yang keliru."Terus terang selama ini kita kehilangan sentuhan kesadaran atas rasa kewarganegaraan itu," kata Lutfi.

Selama Bulan Ramadhan, ia juga berharap para penceramah  tidak menyajikan muatan-muatan yang provokatif dengan menghindari berbagai ujaran kebencian.

 "Kami berharap tidak ada provokasi dengan membangun rasa tidak suka dengan pemerintah, atau memprovikasi masyarakat untuk tidak mendukung partisipasi pembangunan," kata dia.


(L007)



























































































































































 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar