Gunung Kidul tidak melakukan persiapan tradisi "padusan"

id padusan

Ilustrasi sejumlah orang melakukan "padusan" (antarafoto.com)

Gunung Kidul (Antaranews Jogja) - Dinas Pariwisata Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tidak melakukan persiapan khusus dalam tradisi "padusan" atau mandi besar sehari menjelang puasa.

Sekretaris Dinas Pariwisata Gunung Kidul Hary Sukmono di Gunung Kidul, Rabu, mengatakan pada momen padusan 2018 ini, pihaknya tidak menggelar acara apapun, baik acara hiburan maupun pemasangan pipa padusan yang biasanya ada ditiadakan.

"Meski nantinya tidak ada acara, kami tetap optimistis kawasan pantai Gunung Kidul akan tetap ramai oleh wisatawan pada momen padusan kali ini. Mohon maaf kepada masyarakat, tahun ini kami tidak menggelar acara apapun. Tapi mungkin dari Pokdarwis masing-masing objek wisata yang menggelar acara," kata Hary.

Sementara itu, Sekretaris Tim SAR Wilayah II Pantai Baron Surisdiyanto mengungkapkan pihaknya menerjunkan hampir seluruh kekuatannya untuk melakukan pantauan di kawasan pantai maupun perairan. Total ada sekitar 57 personel disebar di sejumlah titik kawasan pantai yang ramai oleh pengunjung.

Menurut Surisdiyanto, tingkat kerawanan di masa padusan ini memang lebih tinggi. Hal ini lantaran masyarakat sebagian besar terjun ke pantai untuk melakukan momen padusan. SAR Baron sendiri memprioritaskan wilayah-wilayah pantai yang? merupakan daerah-daerah "rip current" serta Pantai Baron. Pantai Drini sendiri mendapatkan prioritas khusus lantaran diketahui memiliki karakter rip current yang sangat kuat sehingga sangat berbahaya bagi pengunjung.

"Yang biasanya cuma duduk saat momen padusan ini juga akhirnya memilih untuk terjun ke laut," katanya.

Ia mengimbau kepada seluruh warga masyarakat maupun pengunjung untuk waspada mengingat karakter ombak di Pantai Selatan sulit untuk diprediksi. Saat ini, ombak masih terhitung landai. Namun situasi ini bukan tidak mungkin tiba-tiba berubah.

"Kami meminta kepada masyarakat untuk menghindari daerah-daerah rip current," harap dia.


 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar