Penangkapan warga di Bantul tidak terkait teroris

id polres bantul

Polres Bantul Prov.D.I.Yogyakarta (jogja.antaranews.com)

Bantul (Antaranews Jogja) - Penangkapan seorang perempuan yang mengontrak di Pedukuhan Rejokusuman, Desa Tamanan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, oleh Kepolisian Daerah pada Kamis (17/5) pagi tidak terkait dengan jaringan teroris.

"Kalau yang dari kepolisian saya belum bisa memastikan itu dari Densus atau apa, tapi katanya masalah (kerusuhan) di UIN (Universitas Islam Negeri)," kata pemilik kontrakan di Rejokusuman Tamanan Muklis Nur Ismail ketika ditemui di rumahnya, Sabtu.

Supriyatin warga Cilacap, Jawa Tengah, yang mengontrak rumah di Rejokusuman Tamanan ditangkap aparat gabungan dari Polda DIY dan Markas Besar (Mabes) Polri pada Kamis (17/5) pagi yang dilanjutkan dengan penggeledahan.

Sejumlah media memberitakan, penangkapan perempuan bercadar yang bekerja sebagai penjual cilok di Kota Yogyakarta itu terkait dengan jaringan teroris atau kasus bom di beberapa daerah dalam sepekan terakhir.

Akan tetapi, menurut Muklis yang istrinya menyaksikan waktu penggeledahan kontrakan Supriyatin, anggota polisi yang berjumlah lebih dari 10 orang itu bukan berasal dari Tim Densus 88 Antiteror, melainkan hanya anggota polisi tidak berseragam.

"Saat itu istri saya yang di rumah kalau pada Kamis (17/5) pukul 09.00 WIB ada yang datang dengan penutup wajah mengenalkan dari Polda DIY, kemudian komandannya perempuan omong baik-baik. Tidak ada yang pakai seragam," katanya.

Muklis melanjutkan, pemeriksaan dan penggeledahan di rumah kontrakannya tempat Supriyatin tinggal oleh kepolisian dilakukan dua kali. Pemeriksaan yang kedua dilakukan pada Kamis (17/5) sekitar pukul 13.00 WIB oleh anggota yang berbeda.

"Paginya itu anggota masuk ke dalam, namun selang beberapa jam kemudian sekitar jam 13.00 WIB dari Mabes beda personel dengan yang pertama minta kunci cadangan untuk memeriksa kembali kontrakan," katanya.

Dia mengatakan belum dapat memastikan Supriyatin ditangkap di man, sebab pada saat pemeriksaan dan penggeledahan kontrakan pertama, Supriyatin sudah berada di dalam salah satu dari empat mobil yang datang bersama rombongan Polda.

"Awal penangkapan kurang tahu, hanya saja pukul 09.00 WIB itu ada tamu dari Polda dengan empat sampai lima mobil datang menanyakan kamar Supriyatin," katanya yang membenarkan setelah itu Supriyatin dibawa ke Polda DIY.

Namun demikian, kata dia, pada Kamis (17/5) malam, Supriyatin dikembalikan ke kontrakannya karena menurut pengakuan Supriyatin saat ditanyai pemilik kontrakan tidak terbukti dengan kasus yang saat ini dalam pengembangan polisi tersebut.

"Kamis pagi ditangkap dan malamnya langsung dikembalikan. Intinya salah orang karena benar-benar tidak ada bukti. Katanya (Supriyatin) yang jadi sasaran adiknya, kalau adiknya namanya Siti Khotidjah, namun yang dicari bukan itu," katanya.

Sementara itu, Kepala Polres Bantul AKBP Sahat M Hasibuan ketika dikonfirmasi sebelum awak media cari informasi di lapangan mengaku tidak mengetahui perihal penangkapan terduga teroris di wilayah Desa Tamanan Bantul, sebab Polres tidak menerima laporan.

"Saya belum mendapat laporan, mungkin kalau Densus lansung dari Mabes," katanya.

(
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar