Askopis minta para pendakwah sebarkan Islam moderat

id shalat idul fitri

Ilustrasi. Jamaah shalat Idul Fitri di kawasan bencana Gunung Merapi sedang mendengarkan khutbah (Foto Victorianus SP/ANTARA))

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Asosiasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Askopis) Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri dan Swasta se-Indonesia mendorong para juru dakwah atau penceramah menyebarkan pemahaman mengenai Islam yang moderat.

"Kami mendorong dan mengajak para juru dakwah, penceramah, dan narasumber lainnya untuk senantiasa menyampaikan pemahaman keagamaan yang `rahmatan lill aalamin`, Islam wasathiyah (moderat)," kata Ketua Umum Askopis Muhammad Zamrony di Yogyakarta, Sabtu.

Zamrony mengatakan bahwa serangkaian aksi teror seperti aksi pengeboman di Rutan Mako Brimob Depok, di 3 Gereja di Surabaya, hingga di Mapolda Riau merupakan tindakan radikalisme dan terorisme yang tidak bisa di tolelir dan bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama.

"Hal ini bertentangan perikemanusiaan dan nilai-nilai ajaran agama yang humanis serta dapat berakibat secara fisik dan psikologis bagi korban, keluarga maupun masyarakat pada umumnya," kata dia.

Oleh sebab itu agar tidak lagi terulang, selain menebarkan pemahaman keagamaan yang Rahmatan Lil Alamin, menurut dia, para pendakwah juga perlu menyampaikan wawasan kebangsaan yang pancasilais demi utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pascaperistiwa teror tersebut, menurut dia, Askopis juga mengajak dan menyeru kepada semua lapisan masyarakat untuk menjaga dan memperkuat rasa persatuan dan kesatuan serta mempererat ikatan antar-suku, agama atau kepercayaan, ras, dan antargolongan (SARA).

"Agar tidak mudah diadu domba serta dipecah belah oleh siapapun dan kelompok manapun," kata dia.

Selain itu, dalam pemberitaan kasus terorisme, ia juga berharap media massa tetap setia dan taat pada Nilai-Nilai Agama dan Hukum, Kode Etik Jurnalistik, serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) dengan tidak menampilkan gambar atau video yang mengandung unsur kekerasan dalam meliput terorisme.

"Juga meminta televisi untuk tidak mengundang dan menampilkan tokoh-tokoh agama, politisi dan pihak manapun yang menyebarkan syiar kebencian, permusuhan, ekstremisme dan diskriminasi," kata dia.

 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar