DKP kembangkan kspp gurami bagi keluarga miskin

id Gurami

Ilustrasi. Kampung guram. Foto Antara/Hery Sidik)

Kulon Progo  (Antaranews Jogja) - Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengembangkan kawasan sentra produksi perikanan ikan gurami dengan sasaran keluarga miskin dalam rangka percepatan pengentasan kemiskinan di wilayah itu.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulon Progo Sudarna di Kulon Progo, Senin, mengatakan saat ini, sudah ada dua lokasi kawasan sentra produksi perikanan (KSPP) ikan gurami, yakmi di Jatimulyo (Girimulyo) sebanyak 70 unit dan Banjararum (Kalibawang) sebanyak 20 unit.

"Pengembangan kawasan sentra produksi perikanan (KSPP) ikan gurami sudah berjalan satu tahun terakhir," katanya.

Ia mengatakan KSPP di Girimulyo dan Kalibawang komposisi keanggotaan kelompok 60 persen warga mampu dan 40 persen KK miskin. "Kalau anggotanya semua miskin tidak akan berjalan. Untuk itu, perlu ada pendapingan dari warga yang mampu," katanya.

Sudarna mengatakan alasan dipilih gurami dalam budi daya ikan ini karena ikan jenis ikan ini tidak terbatasa ukuran, seperti lele. Gurami bisa dipanen dengan berbagai ukuran sesuai permintaan pasar, dan biaya pakan tidak sebesar lele. Hal ini berbeda dengan lele ada batasan waktu jual.

Ia mencontohkan budi daya ikan gurami di Kelompok Ulam Banyu Jatimulyo, dari sampel yang diambil petugas ukurannya mencapai empat sampai enam ons per ekor atau sekitar dua ekor per kg.

"Pengembangan KSPP ikan gurami ini sudah mulai terlihat dampak positifnya. Kami berharap membantu percepatan pengentasan kemiskinan," katanya.

Sementara, Kepala Bidang Perikanan Budi Daya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulon Progo Leo Handoko mengatakan 3 tahun lalu, DKP membuat program perikanan budi daya tersebar kecil-kecil, sekarang dikonsentrasikan pada titik tertentu yang potensial untuk pengembangan.

"Harapan kami dengan pengembangan kawasan sentra produksi budi daya perikanan menjadi skala usaha," ungkapnya.

Dia menjelaskan lokasi kawasan sentra produksi perikanan di Wates selaus 1,3 hektare sudah terbangun. Dia memerinci minimal mampu memproduksi 800 kg per hari, baru disebut kawasan produksi lele dalam kawasan tertentu.

Kalau ikan gurami memproduksi 600 kg per bulan, kemudian nila 10 ton per siklus karena mengarah pada mina padi. "Program pengembangan kawasan sentra produksi perikanan sudah berjalan 2 tahun," ucapnya.

Leo mengutarakan pengembangan kawasan sentra produksi perikanan tidak memerlukan lahan yang luas. Namun, perlu adanya peningkatan daya produktivitas dengan padat tebar. Saat ini, produktivitas ikan budi daya masih rendah. Saat ini, pembudi daya hanya menenar 100 sampai 150 ekor per meter kubik.

"Kami menaikan pada kepadatan tinggi. Pada 2018 ini, kami akan melakukan uji coba di Kranggan sebanyak 48 kolam dengan kepadatan 500 ekor per meter," lanjut Leo.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar