Belasan perupa melukiskan perenungan pencarian jati diri

id Pameran lukisan,Satu atap

Perupa senior, Nasirun mengamati lukisan yang dipajang dalam pameran lukisan "Instink" di Bentara Budaya Yogyakarta, Sabtu (23/6) malam. (Foto Antara/Luqman Hakim)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Lima belas perupa yang tergabung dalam Komunitas Seni Rupa Satu Atap menggelar pameran lukisan bertajuk "Instink" di Bentara Budaya Yogyakarta, Sabtu malam, sebagai simbol pendekatan proses pencarian jati diri sebagai manusia.

Pameran yang menampilkan 26 karya seni rupa dari berbagai aliran mulai abstrak, figuratif, hingga realis itu dibuka oleh perupa senior asal Yogyakarta, Nasirun.

"Pameran ini mengajak kita untuk merenungi kembali betapa susahnya menjadi manusia yang `manusia`," kata Perwakilan Komunitas Satu Atap Hendra Himawan.

Menurutnya, "Instink" sengaja dipilih sebagai tema besar yang dianggap tepat mewakili pemaran yang berlangsung hingga 30 Juni 2018 itu.

Insting, menurut dia, adalah naluri sekaligus momentum paling jujur untuk memotret realitas tingkah polah manusia dalam sebuah karya seni.

"Insting di dalam dunia pekerja seni memang sangat kuat. Kadang-kadang dia menjadi pedoman naluri untuk berkarya," ujar dia.

Menurutnya dalam konteks bulan Syawal ini karya-karya yang menggambarkan segala tingkah polah manusia sangat tepat dan relevan sebagai simbol perenungan untuk mengukur pencapaian manusia dalam mengelola nafsunya.

Seperti dalam lukisan berukuran 186 x 144 cm karya Imam Tohari berjudul "Mencari Kedudukan", tergambar seseorang bertelanjang dada tengah melakukan akrobat dengan melompati sebuah "kursi" berwarna putih yang seolah ingin digambarkan sebagai kekuasaan.

"Puasa itu kan soal bagaimana menghilangkan nafsu dan segala kebinatangan kita dan setelah Syawal diharapkan kesadaran jiwa kita sebagai manusia meningkat. Tetapi sebelum itu, ada baiknya kita menyadari apa yang sudah kita lakukan dan bagaimana proses kita dalam bergulat dengan nafsu," jelas dia.

Belasan perupa yang berkontribusi dalam pameran itu adalah Imam Tohari asal Pati, Jawa Tengah, Ticko Sandikala asal Sragen, Jawa Tengah, Sri Pramono (Sleman, Yogyakarta), Joko Supriyono (Kota Yogyakarta), Godek Mintorogo (Bantul, Yogyakarta) dan Novian Rinaldy (Bantul, Yogyakarta).

Lalu, Lukman Van Gogh (Sleman, Yogyakarta), Suryo (Sleman, Yogyakarta), Reza D Pahlevi (Yogyakarta), Rinto (Sleman, Yogyakarta), Andi Hartana (Yogyakarta), Putut Puspito (Pati, Jawa Tengah), Mufti Handayani (Grobogan, Yogyakarta), serta Susilo Tomo (Pati, Jawa Tengah).

Perupa senior, Nasirun mengapresiasi upaya lima belas perupa yang mencoba mengajak masyarakat, khususnya para penikmat seni untuk sadar akan jati dirinya melalui naluri atau insting yang dituangkan ke dalam sebuah karya seni.

"Dalam insting ini mari kita berkawan dengan pikiran dan hati nurani," kata pria yang dijuluki pelukis milyuner ini.

(T.L007).
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar