Erasmus+ memfasilitasi mahasiswa belajar di Eropa

id beasiswa

Ilustrasi (Foto Istimewa)

Jakarta (Antaranews Jogja) - Program beasiswa Erasmus+ yang didanai oleh Uni Eropa memfasilitasi mahasiswa tingkat master untuk belajar di dua atau lebih universitas di negara Eropa berbeda.

Melalui program "Erasmus Mundus Joint Master Degree", mahasiswa bisa menempuh studi S2 dengan berpindah minimum di dua universitas di dua negara Eropa yang berbeda atau maksimal hingga tujuh universitas berbeda.

"Karena belajarnya berpindah-pindah mereka bisa mengetahui sistem pendidikan di negara yang berbeda, serta mengenali masyarakat dan budaya yang berbeda pula," kata Manajer Program Pendidikan Delegasi UE untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Destriani Nugroho di sela-sela upacara penghargaan beasiswa Erasmus+ di Jakarta, Sabtu.

Untuk Tahun Akademik 2018, 38 dari total 240 mahasiswa dan dosen Indonesia mendapat beasiswa Erasmus+ untuk studi tingkat master.

Salah satu penerima beasiswa, Resty Armenia, memilih Program Erasmus+ yang memberinya lebih banyak kesempatan untuk belajar, bahkan hingga di empat negara, yaitu Portugal, Norwegia, Swedia, dan Uganda.

Skema beasiswa lain, menurut dia, tidak ada yang selengkap Erasmus+ yang juga memfasilitasi program magang dan kerja lapangan.

"Melanjutkan kuliah di Eropa juga sesuai dengan minat saya mempelajari tentang kesejahteraan keluarga dan anak, yang di Indonesia mata kuliahnya belum banyak soal itu," tutur dia.

Pelaksana Tugas Direktur Kerja Sama Intrakawasan Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI Virdiana Ririen Hapsari berharap, jumlah penerima beasiswa Erasmus+ terus bertambah setiap tahunnya, sebagai upaya bersama meningkatkan ilmu dan kapasitas generasi muda untuk masa depan yang lebih baik.

Generasi muda, kata dia, mengisi 15 persen dari total populasi Indonesia sehingga peran mereka untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa menjadi tidak terelakkan.

"Pada 2045 Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaan, pada saat itu generasi muda saat ini akan memegang peranan dalam proses pengambilan keputusan baik tingkat nasional maupun internasional. Karena itu, mereka harus dibekali dengan keahlian dan kompetensi yang optimal karena masa depan dan kesejahteraan Indonesia ada di tangan mereka," tutur Virdiana.

Sejak diluncurkan pertama kalinya pada 2004, sudah lebih dari 1.600 mahasiswa Indonesia menerima manfaat beasiswa Erasmus+.

Selain program master dan pertukaran untuk mahasiswa S1, beasiswa itu juga memfasilitasi pertukaran antara dosen Indonesia dan Eropa. 
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar