Pakar: intelijen perlu libatkan masyarakat untuk deteksi terorisme

id Baku tembak polisi

Pakar: intelijen perlu libatkan masyarakat untuk deteksi terorisme

Sejumlah polisi berjaga di tempat kejadian perkara baku tembak di kawasan Jalan Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (14/7). Baku tembak polisi dengan orang bersenjata terjadi di Jalan Kaliurang pada pukul 17.00 WIB. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/18.

Sleman (Antaranews Jogja) - Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM) Muhammad Najib Azca menyatakan intelijen perlu melibatkan masyarakat secara langsung untuk mendeteksi pergerakan maupun sel-sel terorisme.
     
" Peran intelijen bisa menjadi langkah preventif dan preemtif aksi terorisme. Konsepnya, pendeteksian dengan melibatkan masyarakat secara langsung," kata  Najib di Sleman, Senin.
     
Menurut dia, langkah-langkah terkecil dengan mengenali lingkungan termasuk tetangga kanan dan kiri dapat diterapkan masyarakat untuk mendeteksi pergerakan atau sel-sel teroris.
   
"Langkah tersebut juga berfungsi mereduksi paham kekerasan di masyarakat.  Tentunya dengan melibatkan tokoh-tokoh agama hingga tokoh masyarakat," katanya.
     
Ia mengatakan, intensitas komunikasi juga perlu berjalan dengan baik,  terutama kepada kelompok terduga teroris.
   
"Intelijen itu cara yang paling ampuh dan efisien,  terlebih sel tidur tidak bisa terdeteksi jika belum bergerak, dengan fungsi intelijen ini dapat mengetahui seberapa jauh dan luas gerakan teroris yang sudah ada di satu wilayah, termasuk Yogyakarta," katanya. 
   
Najib mengatakan, disahkannya Undang-Undang Terorisme menjadi kekuatan penuh bagi Polri dan TNI. Setidaknya mampu meredam pergerakan yang lebih masif.
   
 "Terutama dalam mendeteksi jaringan terorisme tanpa harus menunggu timbulnya aksi terorisme. UU Terorisme memberi kewenangan lebih besar kepada lembaga penegak hukum untuk bertindak preemtif dan preventif," katanya.
     
Ia mengatakan, sel tidur tetap memiliki ancaman yang tinggi. Kelompok ini tidak segan untuk menyerang bahkan melukai kelompok yang berseberangan dengan idealis.
   
"Bahkan doktrin yang ditanamkan berupa menghalalkan kekerasan dan teror demi perjuangan. 
Sayangnya konteks perjuangan memiliki pemahaman yang sempit," katanya.
     
Analoginya, kata dia, berupa kondisi peperangan layaknya di kawasan Timur Tengah.
     
"Kemudian melakukan penyerangan beberapa lokasi di Indonesia sebagai wujud balas dendam peperangan di Timur Tengah," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2024