SMP di Yogyakarta pastikan tidak ada kekerasan pada pengenalan sekolah

id pengenalan lingkungan sekolah, siswa baru, SMP

Siswa baru di SMP Negeri 9 Yogyakarta mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan sekolah. (Eka Arifa Rusqiyati)

Yogyakarta  (Antaranews Jogja) - SMP negeri di Kota Yogyakarta memastikan tidak ada tindakan kekerasan selama masa pengenalan lingkungan sekolah untuk siswa baru, salah satunya di SMP Negeri 9 Yogyakarta.
   
“Tanggung jawab pelaksanaan kegiatan pengenalan lingkungan sekolah (PLS) berada di tangan guru, sedangkan siswa melalui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sifatnya membantu saja,” kata Kepala SMP Negeri 9 Yogyakarta Arief Wicaksana di Yogyakarta, Senin.
   
Menurut dia, tidak ada tugas berat yang dibebankan ke siswa baru selama mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan sekolah di SMP Negeri 9 Yogyakarta. Siswa baru hanya diwajibkan membuat papan berisi nama masing-masing yang kemudian dikenakan di dada dan punggung.
   
Selama PLS, lanjut dia, siswa baru akan diberikan pengarahan dan pengenalan tentang kondisi dan fasilitas sekolah, guru, pengarahan tentang pencegahan penyalahgunaan narkoba, tertib lalu lintas, bahkan ada program “outdoor class” yang akan dilaksanakan dengan mengunjungi perajin perak dan mengenal salah satu cagar budaya di wilayah tersebut yaitu Masjid Gede Mataram.
   
“Harapannya, siswa baru bisa semakin mengenal lingkungan sekolah, karakter sekolah, dan berbagai kebiasaan-kebiasaan baik yang dimiliki sekolah seperti tadarus, budaya literasi hingga menjaga kelestarian lingkungan sekolah,” katanya.
   
Sebanyak 204 siswa baru di SMP Negeri 9 Yogyakarta mengikuti PLS yang akan diselenggarakan tiga hari hingga Rabu (18/7) dari pukul 07.00 WIB hingga 12.30 WIB. 
   
“Hari ini pun ada penyerahan siswa baru oleh perwakilan orang tua atau wali murid sebagai tanda bahwa siswa bersekolah di sini dan sekolah menerima mereka,” Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Heru Supriyanto.
   
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Edy Heri Suasana mengatakan sudah mengirimkan surat edaran ke seluruh sekolah di Kota Yogyakarta untuk menegaskan bahwa PLS merupakan tanggung jawab guru di bawah komando kepala sekolah.
   
Edy menyebut, selama PLS, sekolah diharapkan dapat menyampaikan informasi yang seluas-luasnya tentang lingkungan sekolah, program, dan kurikulum hingga area di sekitar sekolah.
   
“Keterlibatan siswa melalui OSIS dapat dilakukan, namun hanya untuk mensosialisikan organisasi siswa. Sedangkan untuk alumni sekolah, tidak relevan jika masih dilibatkan dalam PLS,” katanya.
   
Edy juga mengingatkan agar tidak ada tugas yang dibebankan ke siswa baru termasuk membawa berbagai barang apabila tidak ada hubungannya dengan pelaksanaan kegiatan PLS atau kegiatan sekolah sebagai antisipasi potensi perploncoan.
   
Sebelumnya, Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi menegaskan agar sekolah dapat memberikan gambaran lengkap terkait sekolah kepada siswa baru sehingga siswa dapat beradaptasi dengan lebih mudah dengan lingkungan baru mereka.
   
Heroe pun meminta sekolah bisa menjelaskan tentang berbagai ekstrakurikuler yang dimiliki sekolah. “Harapannya, setiap sekolah bisa memiliki ekstrakurikuler tentang kesenian tradisional Yogyakarta agar budaya lokal tetap terjaga,” katanya. 
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar