Kementan meningkatkan bobot pedet melalui teknologi "flushing"

id pedet

Ilsutrasi pedet (anak sapi) (antarafoto.com)

Jakarta (Antaranews Jogja) - Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kementerian Pertanian mampu meningkatkan bobot lahir pedet atau anak sapi dari 15 kilogram menjadi 20 kilogram atau 33 persen melalui teknologi "flushing".

Ketua Kelompok Peternakan, Samsul Falah melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu, menjelaskan, dalam diskusi bersama Tim Pendampingan Kawasan Pertanian dari BBP2TP yang melakukan kajian di Nusa Tenggara Barat, Rabu, para peternak mengaku puas dengan peningkatan bobot lahir pedet mereka melalui teknologi "flushing", salah satu inovasi yang diperkenalkan oleh BPTP NTB.

"Kami sangat puas dengan teknologi flushing yang diajarkan oleh Pak Sas, Pak Kahar, dan Bu Nurul dari BPTP," katanya.

Menurut Samsul, performa induk setelah melahirkan juga diakui lebih sehat dan kuat dibandingkan sebelum perlakuan flushing
   
Teknologi flushing ini dinilai sangat baru bagi peternak setempat karena mereka tidak pernah mengenal teknologi itu sebelumnya.

Teknologi tersebut mempraktekkan pemberian pakan bernutrisi tinggi selama dua bulan di akhir kebuntingan dan dua bulan setelah melahirkan. Pakan ini berupa rumput unggul, legume, dedak dan starbio.

Sebelum mengenal flushing, tidak ada perbedaan pemberian pakan di masa-masa tersebut, yaitu mereka memberikan pakan berupa rumput alam yang kadang dicampur dengan bonggol pisang.

Teknologi flushing merupakan satu dari beberapa inovasi yang diperkenalkan oleh BPTP NTB dalam pendampingan kawasan peternakan kepada Kelompok Sambuk Manis di Desa Beriri Jarak, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur, yang telah mendapatkan kegiatan pendampingan kawasan peternakan tahun 2017 dari BPTP NTB.

Samsul Falah menambahkan tidak pernah ada bantuan apapun yang diterima oleh kelompoknya sebelum tahun 2017.

Lokasi ini dipilih untuk didampingi oleh BPTP NTB karena merupakan lokasi yang juga menerima program unggulan Kementan SIWAB (Sapi Induk Wajib Bunting) Tahun 2017.

Pemilihan lokasi juga dipertimbangkan dari sisi kedekatan aksesnya dengan lokasi SPR (Sentra Peternakan Rakyat) yang juga merupakan program Kementan. Dengan demikian, diharapkan antarpeternak dapat saling menularkan pengalaman mereka dalam menerapkan inovasi untuk perbaikan produksi ternak.

Selama diskusi, apresiasi dan antusiasme sangat terlihat dari banyaknya peternak yang bergabung saung rapat pada siang hari itu.

"Kegiatan BPTP masuk ke sini adalah yang pertama bagi kami. Kami sangat berterima kasih, teknologi dan ilmu yang diajarkan sangat bermanfaat bagi peningkatan kondisi ternak kami juga bagi keadaan ekonomi keluarga," kata Samsul.
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar