Legislator minta nelayan difasliitasi informasi penanggulangan bencana

id Nelayan,Gelombang tinggi

Nelayan ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/ama/17)

Yogyakarta  (Antaranews Jogja) - Anggota DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta Eko Suwanto meminta Dinas Kelautan dan Perikanan, dan BMKG memfasilitasi nelayan terkait sistem informasi penanggulangan bencana.
   
Eko Suwanto di Yogyakarta, Sabtu, mengatakan pengetahuan dan pelatihan mitigasi bencana sangatlah penting sebagai pedoman untuk meminimalkan risiko bencana. 
     
"Sesuai dengan Perda DIY Nomor 13 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Bencana, ada tugas dan kewenangan yang jelas agar langkah mitigasi bencana bisa efektif berlaku," kata Eko.
     
Ia mengataian dari pemetaan yang ada, terdapat berbagai berbagai potensi bencana,  baik angin kencang,  gelombang tinggi,  gempa bumi, tanah longsor dan lain lain.
     
"Sehingga kita harus menyiapkan masyarakat tangguh hadapi bencana didukung peralatan atau sarana prasarana dan teknologi informasi yang baik. Dan tentu saja kita akan tingkatkan kualitas SAR yang lebih tangguh lagi," katanya.
     
Selain itu, menurut Eko, adanya peristiwa angin kencang yang menyebabkan gelombang tinggi di sepanjang pesisir pantai di selatan Jawa mengancam keselamatan nelayan. 
     
Mengantisipasi potensi bencana gelombang tinggi, nelayan di sepanjang pesisir pantai selatan DIY perlu mematuhi peringatan dini yang telah disampaikan oleh BMKG.
     
"Kami mengimbau agar nelayan dan masyarakat di pesisir selatan agar selalu ikuti peringatan dini yang dikeluarkan BMKG, agar meminimalkan resiko laka laut ataupun korban jiwa saat gelombang tinggi, seperti saat ini," katanya.
     
Sebelumnya, BMKG Yogyakarta dalam rilisnya sudah memberikan peringatan dini atas risiko potensi angin kencang akibat adanya badai atau siklon.
     
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Yogyakarta meminta para nelayan mewaspadai dampak siklon tropis "Son Tinh" di Laut China Selatan yang diperkirakan memicu peningkatan tinggi gelombang di pesisir selatan Yogyakarta.
     
"Nelayan untuk sementara waktu diimbau agar tidak melaut," kata Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Agus Sudaryatno.
     
Dia menjelaskan siklon tropis "Son Tinh" terpantau pada Selasa (17/7) di Laut China Selatan, tepatnya di sebelah barat Laut Filipina.
     
Meski lokasinya cukup jauh, siklon tersebut mampu meningkatkan kecepatan angin hingga lebih dari 35 kilometer per jam di laut selatan Jawa.
     
Ia mengatakan berdasarkan prakiraan BMKG siklon tersebut akan berdampak pada tinggi gelombang di pesisir selatan Yogyakarta hingga 22 Juli 2018.
   
Tinggi gelombang pada Rabu ini diperkirakan mencapai 2-3,5 meter dan paling tinggi pada 20 Juli yang diperkirakan mencapai 2-6 meter.
   
Oleh sebab itu, selain mengimbau nelayan meningkatkan kewaspadaan, Agus juga mengimbau para wisatawan yang beraktivitas di sekitar pantai untuk waspada.
     
Kepada wisatawan diimbau untuk tidak mandi di laut hingga tinggi gelombang laut kembali kondusif," kata dia. 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar