Komisi pastikan irigasi di Kalibawang mengalir Agustus

id irigasi

Komisi pastikan irigasi di Kalibawang mengalir Agustus

Petani Nanggulan Kulonprogo Pak Taryono(66) sedang mengecek irigasi air dan membersihkan hama rumput yang menganggu area persawahnya di desa Kenteng, Nanggulan, Kulonprogo, Rabu (15/11). Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi meluapnya air di area persawahan saat hujan tiba yang dapat menyebabkan gagalnya panen musim ini. Beliau berharap pada musim ini panen padi akan lebih bagus serta tidak ada hama yang menyerang padi sebelum musim panen tiba. (Foto ANTARA/Dimas Andika/ags/17)

 Kulon Progo (Antaranews Jogja) - Komisi Irigasi di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, memastikan saluran irigasi induk Kalibawang kembali mengalir pada 1 Agustus 2018 supaya tidak mengganggu produksi tanaman pangan di wilayah itu.

Anggota Komisi Irigasi Kulon Progo Hadi Prayitno di Kulon Progo, Minggu, mengatakan pintu air irigasi Kalibawang yang ditutup sejak 15 Mei sampai saat ini karena ada perbaikan Tawang Bowong dan perawatan rutin.

Saluran irigasi Kalibawang mengalir dari Kecamatan Kalibawang hingga Sentolo. Melewati enam kecamatan yakni Kalibawang, Nanggulan, Girimulyo, Pengasih, Sentolo, dan Sebagian Wates.

Saluran tersebut juga mengakibatkan kekeringan di lahan pertanian dan kolam ikan milik warga di enam kecamatan tersebut.

"Sesuai permintaan Bupati Kulon Progo, kami pastikan pada 1 Agustus, saluran iriasi Kalibawang akan dibuka untuk mencukupi air petani," katanya.

Ia mengatakan saat ini air tidak bisa dialirkan karena pengerukan tanah sedang dilakukan. Selain itu Talang Bowong sendiri saat ini telah terputus.

"Rencananya, saat air dialirkan pada Agustus nanti, akan menggunakan saluran lama yang sedang diperbaiki. Saluran baru memerlukan waktu tahunan untuk perbaikannya," katanya.

Kepala Seksi Produksi Tanaman Pangan Bidang Tanan Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo Wazan Mudzakir mengatakan penutupan irigasi Kalibawang dilakukan dari 15 April-akhir Juli 2018 atau sekitar 3,5 bulan.

"Luas lahan sawah yang memasuki taman seluas 1.632 hektare, mayoritas berada di Kecamatan Sentolo. Kami sudah melakukan sosialisasi kepada petani, namun petani tetap akan menanam padi," kata Wazan.

Ia mengatakan penutupan ini menindaklanjuti rapat Komisi Irigasi Kulon Progo karena ada rehabilitasi saluran induk irigasi Kalibawang yang dilakukan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO).

Awalnya saluran induk irigasi Kalibawang akan dilakukan rehabilitasi besar-besaran karena adanya kerusakan jaringan Tawang Bowong, sekaligus kerusakan lainnya. Pada tahun ini BBWSSO minta waktu 3,5 bulan yang dimulai 15 April-31 Juli 2018.

"Berdasarkan rapat koordinasi, BBWSSO meminta waktu lebih dari 3,5 bulan untuk menuntaskan perbaikan jaringan irigasi Kalibawang. Namun disepakati 3,5 bulan dengan pertimbangan di lapangan," katanya.

Menurut dia, dengan dimatikan jaringan sistem irigasi Kalibawang, maka lahan seluas 3.936 hektare di wilayah Kulon Progo tidak mendapat air. Jaringan sistem irigasi Kalibawang meliputi Kejuron atau Gabungan P3A Papah, Donomulyo Hilir, wilayah Kejuron/GP3A Pekik Jamal Kiri, dan Pekik Jamal Kanan.

Namun, untuk wilayah Kejuron/GP3A Pekik Jamal Kiri dan Pekik Jamal Kanan mendapat pasokan air dari Waduk Sermo sehingga bisa melakukan tanam. Sedangkan Kejuron atau Gabungan P3A Papah dan Donomulyo Hilir dengan luas lahan 1.632 hektare sama sekali tidak mendapat pasokan air.

"Petani tetap menanam padi. Mereka berencana menggunakan sumur bor atau mata air terdekat dan mengandalkan hujan. Kami tidak bisa melarang mereka tidak menanam padi," katanya. (KR-STR).

(T.KR-STR)
Pewarta :
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar