Petani tembakau Gunung Kidul agar meningkatkan kualitas

id Tembakau

Petani tembaka. (FOTO ANTARA/Anis Efizudin/foc/16.)

 Gunung Kidul  (Antara)news Jogja - Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendorong petani tembakau di wilayah Girikarto, Kecamatan Purwosari meningkatkan kualitas produksi tembakau.
   
 Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul Bambang Wisnu Broto di Gunung Kidul, Jumat, mengatakan tembakau hasil panen petani Girikarto termasuk kualitas bagus.
   
"Kami minta petani meningkatkan kualitas tembakau supaya harganya tetap terjaga tinggi," kata Bambang.
     
Ia mengatakan dari pantauan petugas belum lama kemarin harga di sana Rp40 ribu sampai dengan Rp200 ribu per kilogram. Namun, dalam beberapa hari terakhir, petani mengeluh turunnya harga tembakau ditingkat petani.
   
 "Kami menduga turunnya harga tembakau dikarenakan rendahnya kualitas tembakau yang dihasilkan petani kurang bagus," katanya.
     Bambang mengatakan perkembangan perkebunan tembakau di Gunung Kidul cukup baik. Saat ini sejumlah kecamatan sedang berlomba-lomba menghasilkan tembakau dengan kualitas terbaiknya.
     
"Saat ini sudah berkembang di sejumlah kecamatan seperti, Purwosari, Panggang, Paliyan, Wonosari, Karangmojo, Semin, Ngawen dan Ponjong. Jadi sudah banyak tembakau rakyat di Gunung Kidul," imbuh dia.
   
Bambang mengatakan mengenai adanya keluhan petani, sampai dengan saat ini pihaknya belum menerima adanya aduan. Pasalnya untuk pemasaran, sejumlah kelompok tani juga melakukan kerjasama dengan perusahaan besar di luar daerah.
     
"Jadi kemungkinan yang harganya turun itu karena kualitasnya juga rendah. Ada PT. Sadana, PT. Pandu dan beberapa PT yang bekerja sama dengan masyarakat. Sehingga soal pemasaran sepertinya tidak ada masalah," katanya.
     
Salah seorang petani tembakau warga di Padukuhan Ploso, Desa Girikarto, Kecamatan Purwosari Haryono mengatakan pada masa panen ke dua ini, para petani merasakan kegelisahan karena harga jual tembakau rajang mengalami penurunan cukup drastis.
   
 "Awal tahun harganya Rp150 ribu per kilogram. Saat ini hanya Rp90 ribu per kilogram," kata Haryono.
     
Ia mengatakan turunnya harga tembakau dikhawatirkan mempengaruhi perekonomian masyarakat. Pasalnya, mereka tak menanam tanaman lain selain  tembakau.
     
"Sebagian besar lahan telah dialih fungsikan menjadi kebun tembakau," katanya. 
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar