Film aset diplomasi paling efektif

id riri riza

Produser Mira Lesmana dan sutradara Riri Riza (Antaranews/)

Jakarta (Antaranews Jogja) - Film bisa mengambarkan apa saja, mulai dari sosok, kuliner, seni, budaya sampai politik. Oleh sebab itu, sebuah film bisa disebut sebagai aset diplomasi.

Cerita sebuah film, dapat berbicara tentang peradaban, kebudayaan suatu bangsa, kehidupan sosial masyarakat ataupun isu besar yang terjadi di suatu tempat atau negara. Tidak sedikit juga sineas yang memasukkan pesan-pesan khusus dalam filmnya.

Hal tersebut dinilai efektif, karena film sama halnya dengan musik yang memiliki bahasa universal dan dapat diterima di mana saja. Lewat film, masyarakat dunia menjadi saling mengenal meski tidak bertatap muka.

"Sudah pasti film adalah medium seni yang paling populer. Film bisa memperkenalkan masyarakat tentang budaya bangsa dan juga keterampilan dari masyarakatnya. Kita bisa kenal budaya di masing-masing negara, keterampilan dan kesenian di negara-negara tersebut," ungkap Riri Riza dalam diskusi "Film sebagai Aset Diplomasi" di Kementerian Luar Negeri, Jakarta.

Livi Zheng, sutradara Hollywood asal Indonesia pun sudah membuktikannya. Dia selalu berusaha memasukkan unsur-unsur yang bernuansa Indonesia dalam setiap filmnya.

"Film adalah tools diplomasi yang efektif. Saya membawa lebih dari 500 lukisan dari Indonesia untuk film saya. Lalu ada juga 'Insight', yang sama masukkan unsur pencak silat. Nah, yang mau keluar adalah 'Bali: Beats of Paradise' yang mau syuting di Bali, memasukkan unsur gamelan Bali juga," terang  Livi.

Riri dan Livi sama-sama berpendapat bahwa Indonesia banyak sekali hal yang belum dieksplorasi dan kesempatan yang dimiliki pun sangat besar.

"Sejak awal karir saya, saya selalu mau syuting di Indonesia dan memakai unsur-unsur Indonesia. Karena Indonesia itu sangat amazing. Makanya, saya selalu promosi Indonesia," ucap Livi.

"Indonesia punya kesempatan besar dan sineas kita banyak yang berprestasi. Kita punya besar sekali potensi," timpal Riri.
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar