Pemkab bantah penataan kawasan pantai pascagelombang pasang lamban

id pantai gunung kidul

Pantai Watukodok Gunung Kidul (Foto Istimewa)

Gunung Kidul (Antaranews Jogja) - Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, membantah penataan kawasan pantai pascabencana gelombang pasang yang lamban dan terkesan tidak serius.
     
Sekretaris Daerah (Sekda) Gunung Kidul Drajat Ruswandono di Gunung Kidul, Kamis, mengatakan kesan lambannya pemkab dalam melakukan penataan tidak sepenuhnya benar, karena pemkab harus mempertimbangkan berbagai macam aspek-aspek yang ada di masyarakat jika langsung dilarang menempati sempandan pantai.
       
Bangunan-bangunan milik pedagang yang berada di sempadan pantai dan rusak maupun hilang saat terjadi gelombang pasang sudah mulai diperbaiki atau dibangun kembali.
     
"Kalau kita langsung melarang, kita belum punya solusi untuk relokasi pedagang, sehingga untuk sementara dibuat surat pernyataan. Nantinya surat itu sebagai salah satu dasar diberikannya lokasi relokasi nantinya" katanya.
       
Dia mengatakan sebenarnya, pemkab melarang pendirian bangunan permanen dengan radius 100 meter dari bibir pantai. 
     
"Masyarakat pesisir sebenarnya sudah sangat sadar bahwa mereka melanggar larangan. Kalau memang tidak bisa dinasehati maka akan kami kasih garis polisi nantinya," katanya.
       
Drajat mengatakan Pemkab Gunung Kidul beberapa waktu lalu telah mendapatkan saran serta arahan dari Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
     
"Kemarin, kami dapat saran dari gubernur bahwa kawasan pasir harus bebas dari bangunan," lanjut Drajat.
     
Disinggung mengenai perkembangan proses penataan sendiri, Drajat mengaku saat ini masih dalam tahap perencanaan. Sebab menurutnya jika tidak mempunyai rencana serta arah yang jelas, penataan akan sia-sia saja.
     
Tahun ini, pihaknya menyelesaikan DED sesuai rencana induk yang dilakukan pada 2019. Penataan kawasan pantai selatan dengan danais sebanyak Rp20 miliar lebih.
     
"Kalau kemarin kenapa kita dianggap lambat tentu akan menjadi persoalan bagaimana kita memindahkan tempat yang kita rencanakan sejak awal," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar