Nelayan andal disiapkan untuk hadapi pengoperasian Pelabuhan Tanjung Adikarto

id pelabuhan adikarto

Pengerukan Pelabuhan Tanjung Adikarto Kabupaten Kulon Progo, DIY. (Foto Mamiek/ANTARA)

Yogyakarta (Antaranews JOgja) - Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta menyiapkan kompetensi sumber daya manusia nelayan untuk mengoperasikan kapal berkapasitas di atas 10 gross ton sebelum Pelabuhan Tanjung Adikarto diresmikan.
       
"Pelatihan perlu kami gencarkan karena rata-rata hanya bisa mengoperasikan kapal tempel," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY Bayu Mukti Sasongka di Yogyakarta, Sabtu.
         
Menurut Bayu, saat Pelabuhan Tanjung Adikarto di Kulon Progo ditargetka dibuka 2020, kapal-kapal berukuran besar 10 hingga 30 grosston (GT) ke atas bisa masuk. Dengan demikian, produksi ikan tangkap ditargetkan mengalami peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya. "Karena dengan kapal-kapal besar tentu penangkapan ikan bisa lebih besar dan cepat," kata dia.
         
Ia mengatakan hingga saat ini pelatihan pengoperasian kapal berukuran besar kepada para nelayan di kawasan proyek pembangunan Tanjung Adikarto telah berlangsung. Pelatihan dilakukan dengan melibatkan para pendamping dari Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan (BPPP) Tegal.
       
Para nelayan mendapatkan pembekalan mencakup teknik pengoperasian kapal, navigasi serta pelatihan ahli nautika kapal penangkap ikan (ankapin), hingga tata cara pengelolaan ikan tangkap pascapenangkapan saat masih di kapal.
       
"Sampai sekarang sudah ada hampir 50 persen nelayan di kawasan Tanjung Adikarto mendapatkan pembekalan," kata dia.
       
Menurut Bayu, pembangunan Tanjung Adikarto yang sejatinya telah dimulai sejak 2004 itu, kini kembali memasuki proses studi pendahuluan sebelum pembangunan dilanjutkan. Rencananya pembangunan pelabuhan itu akan diserahkan kepada pihak swasta, sebagai Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU).
       
"Pada tahun 2019 kami perkirakan sudah selesai proses kajiannya dan bisa dimulai pembangunanya sehingga kami perkirakan 2020 bisa dibuka," kata dia.
       
Pembangunan pelabuhan perikanan itu sempat terhenti karena mengalami perubahan desain, khususnya untuk pembangunan "break water" atau pemecah ombak. Untuk pemecah ombak sisi sebelah timur yang telah terealisasi 220 meter, akan diperpanjang menjadi 390 meter, sedangkan untuk sebelah barat, yang sebelumnya terealisasi 225 meter akan diperpanjang hingga 350 meter.
     
Sedangkan untuk keseluruhan bangunan fisik darat pelabuhan itu sudah mencapai 90 persen. "Tanpa perpanjangan pemecah ombak maka terjadi sedimentasi terus di sepanjang alur pelabuhan sehingga kapal besar tidak bisa masuk," kata dia.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar