Logo Header Antaranews Jogja

Dinkes uji sampel makanan telusuri penyebab keracunan

Kamis, 20 September 2018 16:11 WIB
Image Print
Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta (Foto Jogja.antaranews.com)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta sudah mengambil sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan yang dialami puluhan warga Mulyorejo yang mengikuti kegiatan posyandu RT 62 RW 16 Lowanu Sorosutan Yogyakarta pada Rabu (19/9).

“Begitu ada kasus di lapangan, tim reaksi cepat langsung diturunkan. Pasien ditangani di fasilitas kesehatan sekaligus mengambil sampel makanan yang masih tersisa untuk diuji sehingga bisa ditelusuri penyebab keracunan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Fita Yulia Kisworini di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, pengujian laboratorium untuk sampel makanan tersebut membutuhkan waktu sehingga diperkirakan hasil pemeriksaan baru bisa diketahui satu pekan kemudian.

Jumlah korban pada kasus keracunan massal yang pertama kali terjadi di Kota Yogyakarta sepanjang 2018 tersebut pada mulanya berjumlah 33 orang, namun hingga Kamis (20/9) bertambah menjadi 48 orang dan 11 di antaranya harus menjalani rawat inap di RS Jogja tetapi tidak ada korban yang kritis.

“Yang paling penting adalah pasien. Mereka harus segera ditangani sehingga kesehatannya pulih. Sebagian besar pun hanya menjalani rawat jalan,” kata Fita.

Sedangkan untuk faktor yang diduga menjadi penyebab keracunan, Fita menyebut, dapat disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari penggunaan bahan makanan yang tidak berkualitas, pengolahan yang salah hingga cara penyajian yang tidak tepat.

Ia mencontohkan, kasus keracunan makanan bisa saja disebabkan oleh penggunaan bahan makanan yang hampir busuk sehingga mengandung banyak bakteri, bahkan penggunaan alat masak dari alumunium untuk mengolah acar yang mengandung cuka juga bisa berpotensi menyebabkan keracunan karena ada reaksi kimia yang terjadi.

“Penggunaan peralatan makanan yang tidak sesuai juga bisa menyebabkan keracunan. Semuanya faktor ini harus diperhatikan,” katanya.

Ia pun akan bekerja sama dengan puskesmas setempat untuk menurunkan petugas dan menenangkan masyarakat agar tetap aktif melaksanakan berbagai program dan kegiatan di posyandu.

“Kegiatan di posyandu harus tetap jalan dan tetap dilakukan pendampingan. Salah satunya sosialiasi mengenai penyiapan pemilihan bahan makanan yang baik dan sehat,” katanya.

Sementara itu, Ketua RW 16 Sorosutan Iwan Agustian mengatakan, warga yang menjadi korban keracunan makanan mengonsumsi beberapa jenis masakan, seperti soto ayam dan bubur kacang hijau. “Saya juga makan soto pada malam hari. Rasanya memang lain,” katanya yang menyebut kasus tersebut adalah kasus keracunan makanan pertama di lingkungannya.

Iwa menyebut, sebagian besar korban keracunan makanan adalah anak-anak. “Warga sudah biasa menyiapkan makanan untuk kegiatan posyandu. Lain kali, kami pasti akan lebih berhati-hati lagi agar kejadian seperti ini tidak terulang,” katanya.



Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026