Instiper: SDM kesatuan pengelolaan hutan harus kreatif

id Rektor Instiper

Rektor Instiper Yogyakarta Purwadi pada acara Malam Rimbawan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di Instiper Yogyakarta (Foto Istimewa)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Rektor Institut Pertanian Instiper Yogyakarta Purwadi mengatakan sumber daya manusia Kesatuan Pengelolaan Hutan atau KPH di Indonesia harus mempunyai kreatifitas agar dapat memaksimalkan hasil  sumber daya hutan tersebut. 
     
"KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) memiliki value tanpa batas, semua tersedia di KPH dan memiliki kekhasan. KPH bisa menghasilkan apa saja. Dengan kreatifitas, harusnya KPH bisa menjadi sumber kemakmuran baru," katanya di Instiper Yogyakarta, Kamis malam. 
     
Hal itu disampaikan Rektor Instiper Yogyakarta dalam acara Malam Rimbawan KPH di Gazebo Grha Instiper Yogyakarta yang dihadiri sekitar 130 orang dari KPH dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan dari seluruh daerah di Indonesia.
     
Menurut Rektor, semua hasil produksi hutan itu bersifat khas dan bersifat lokal spesifik. Misalnya madu yang dihasilkan di hutan Kalimantan akan berbeda dengan madu hutan Papua."Nilai spesial inilah yang dapat meningkatkan nilai produk yang dihasilkan," katanya. 
     
Dia mengatakan, apabila pengelola hutan bisa menghasilkan seperti itu maka semua pemangku kepentingan, pelaku, dan masyarakat di sekitar KPH dapat menikmati hasilnya.
     
"Dengan demikian isu 'sustainability' dapat teratasi dan tidak akan ada lagi masyarakat miskin di sekitar hutan yang kaya sumber daya," katanya. 
   
Oleh karena itu, kata Purwadi, pembangunan kehutanan di Indonesia seharusnya mengarusutamakan (mainstreaming) KPH di Indonesia, sebab dia menilai saat ini pemahaman KPH masih eksklusif di pimpinan KPH saja.
     
"Punya jabatan, punya pemahaman, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Padahal di sisi lain, sumber daya hutan yang tidak terbatas membutuhkan SDM kreatif yang dapat mengelolanya. Inilah autokritik bagi kita semua yang ada di sini," katanya. 
     
Lebih lanjut dia mengatakan, hutan memiliki arti penting dalam kehidupan manusia karena memiliki fungsi ekologi, sosial, dan ekonomis. Ketiga fungsi tersebut harus berjalan seimbang sehingga kelestarian hutan dapat terjaga.
     
Untuk menyelamatkan hutan Indonesia yang sudah mulai kritis maka dibangunlah KPH. Saat ini ada sekitar 600 KPH di Indonesia, tapi baru sekitar 10 persen KPH yang berjalan baik, ini dikarenakan keterbatasan SDM, sumber dana, dan fasilitas pendukung.
     
Oleh sebab itu, kata Rektor, Instiper Yogyakarta ingin ikut berkontribusi untuk mewujudkan KPH yang dapat menjadi sumber kemakmuran baru dengan menyiapkan prajurit SDM yang terampil, kreatif, dan tahan di lapangan.
     
"Instiper telah mencetak SDM Kehutanan yang memiliki wawasan kehutanan yang baik, kreatif, terampil, dan siap bekerja di lapangan," katanya. 
     
Bahkan, kata dia, beberapa perusahaan di bidang kehutanan telah mempercayakan mendidik calon pegawainya di Instiper melalui beasiswa ikatan dinas maupun melalui berbagai pendidikan dan pelatihan di bidang kehutanan.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar