BCA memberikan pelatihan 100 guru di Gunung Kidul

id bca,guru

Executive Vice President Corporate Social Responsibility (CSR) BCA Inge Kusumawati berbicara dalam pelatihan bertajuk "Pengembangan Keterampilan Abad 21 Melalui Budaya Inkuiri" di Yogyakarta. (Foto Istimewa)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memberikan pelatihan keterampilan kepada 100 guru sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Guru kelas maupun mata pelajaran di Gunung Kidul diharapkan bisa kreatif dan inovatif dalam mengajar sesuai dengan perkembangan siswa saat ini. Guru juga diharapkan mampu meningkatkan wawasannya agar dapat menghasilkan siswa cerdas dan berprestasi," kata Executive Vice President Corporate Social Responsibility (CSR) BCA Inge Kusumawati, Sabtu.

Di sela pelatihan bertajuk "Pengembangan Keterampilan Abad 21 Melalui Budaya Inkuiri", Inge mengatakan pendidikan saat ini semakin berkembang dan berbeda denagan kondisi lima sampai 10 tahun lalu sehingga penting memberi wawasan kepada para guru kelas atau mata pelajaran yang menjadi binaan sesuai dengan kebutuhan siswa zaman "now".

"Kami berharap pelatihan ini bisa menjawab semua tantangan guru masa kini," kata Inge didampingi KCU BCA Yogyakarta Saswito.

Inge menjelaskan pengembangan sumber daya manusia kepada murid dan guru menjadi salah satu perhatian perseroan. Serangkaian pelatihan guna meningkatkan "soft skill" para guru diharapkan mampu menunjang prestasi dan kualitas sekolah binaan selama ini.

Selain di Gunung Kidul, menurut dia, pembinaan serupa dilakukan di Serang, Provinsi Banten, dan Tanggamus Provinsi Lampung. Total ada 17 sekolah mulai dari sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA).

"Kami juga memberi pelatihan serupa namun bukan menjadi sekolah binaan di tujuh kota di Indonesia Timur. Rinciannya lima kota di Papua serta di Kupang dan Mataram. Pelatihan semacam ini merupakan permintaan para kepala sekolah dan selalu disesuikan dengan kondisi daerah masing-masing," katanya.

Inge menambahkan pelatihan dibimbing oleh "trainer" yang sudah ahli di bidangnya dan terus dilakukan evaluasi. Oleh karena itu, para guru diharapkan bisa mengajar dengan cara menyenangkan dan peserta didik bisa mendapatkan wawasan baru.

"Kami berharap nanti prestasi anak bisa meningkat, tingkat kelulusan anak lebih baik. Lulusan yang berkualitas pasti membutuhkan peran pengajar yang baik juga. Ini yang menjadi fokus kami di luar bantuan fisik atau material lainnya," kata Inge.

Vice President CSR BCA Rizali Zakaria menambahkan berdasarkan evaluasi selama ini menunjukkan pelatihan yang diharapkan mampu menunjang prestasi akademik sekolah binaan. Misalnya SMA di Gadingrejo dan Karangmojo menjadi sekolah unggulan dan paling diminati masyarakat di Gunung Kidul.

Padahal, menurut dia, sudah bertahun-tahun sekolah ini bukan menjadi pilihan karena memiliki keterbatasan. Bahkan, saat ini lulusan setiap angkatan bisa 100 persen dan siswa banyak yang lolos ke perguruan tinggi negeri (PTN).

"Sekolah binaan di Tanggamus juga menunjukkan hal serupa, dan ini menjadi salah satu indikator keberhasilan. Setiap pelatihan, fasilitator akan melihat langsung sejauh mana hasil pelatihan diterapkan dan menunjang kemampuan para guru. Para guru juga mengakui pelatihan yang diberikan mampu menambah wawasan," katanya.

Rizal menambahkan pelatihan ini membekali kompetensi guru yang disebut "4C" yaitu "collaboration", "creativity and innovation", "communication and information", serta "critical thinking and problem solving".

"Kompetensi '4C' ini dianggap tepat untuk memperkuat modal sosial dan modal intelektual," kata Rizal.
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar