Luas lahan pertanian Yogyakarta terancam berkurang

id Lahan pertanian,panen raya, padi

Kegiatan panen raya padi IR 64 di Gapoktan Ngudi Rukun Kelurahan Sorosutan Kecamatan Umbulharjo Yogyakarta (Eka Arifa Rusqiyati)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Luas lahan pertanian di Kota Yogyakarta terancam terus berkurang karena beralih fungsi untuk kebutuhan lain, di antaranya permukiman seperti yang terjadi di Kelurahan Soroutan Kecamatan Umbulharjo.
   
“Pada 2016, total luas lahan pertanian di Kelurahan Sorosutan masih sekitar 12,9 hektare. Namun pada tahun ini hanya tersisa sekitar delapan hektare,” kata Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Ngudi Rukun Sorosutan Sunarjo di sela panen raya padi di Yogyakarta, Kamis.
   
Menurut dia, sebagian besar lahan pertanian tersebut telah beralih fungsi menjadi permukiman karena pemilik lahan merasa memperoleh keuntungan lebih banyak jika menjual lahan pertaniannya dibanding hasil yang diperoleh dari sektor pertanian.
   
Sunarjo mengatakan, terdapat beberapa beban yang harus ditanggung petani jika ingin mempertahankan lahan pertanian yang dimiliki, di antaranya nilai ketetapan pajak bumi dan bangunan (PBB) yang cukup tinggi serta biaya pengelolaan lahan pertanian hingga panen yang juga tidak sedikit.
     
Nilai ketetapan PBB yang harus ditanggung petani bisa mencapai sekitar Rp15 juta untuk lahan pertanian seluas sekitar lima hektare. “Nilai tersebut cukup besar bagi petani,” katanya.
   
Meskipun luas lahan pertanian di Kelurahan Sorosutan berkurang, namun Gapoktan Ngudi Rukun berusaha untuk memaksimalkan hasil panen padi. Bahkan hasil panen tahun ini meningkat dibanding tahun lalu yaitu rata-rata 9,2 ton gabah basah per hektare menjadi 11,96 ton gabah basah per hektare tahun ini. 
     
Peningkatan hasil panen tersebut dipengaruhi oleh kondisi musim yang lebih baik serta peningkatan kapasitas petani dalam mengolah lahan yaitu menerapkan proses pemupukan yang tepat serta irigasi yang terjamin.
   
Setiap satu kilogram gabah basah yang kemudian dikeringkan dan digiling akan menghasilkan sekitar 600 gram hingga 650 gram beras. “Pengolahan gabah menjadi beras bisa langsung dilakukan memanfaatkan mesin penggilingan yang ada di wilayah ini. Beberapa Gapoktan lain juga terkadang memanfaatkan mesin disini untuk memproduksi beras,” katanya.
   
Beras jenis IR 64 yang dihasilkan Gapoktan Ngudi Rukun kemudian dijual dengan harga antara Rp10.500 per kilogram hingga Rp11.000 per kilogram.
   
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto mengatakan, Pemerintah Kota Yogyakarta sudah memiliki Peraturan Wali Kota Yogyakarta Nomor 112 Tahun 2017 tentang Pengendalian Lahan Sawah Beririgasi Teknis.
   
Melalui peraturan tersebut, Pemerintah Kota Yogyakarta memberlakukan penundaan pemberian izin perubahan penggunaan lahan sawah menjadi fungsi lain yang diberlakukan sejak 1 Januari 2018 hingga 31 Desember 2018 dan bisa dikaji lebih lanjut. Namun, permohonan perubahan penggunaan sawah yang sudah masuk sebelum 1 Januari 2018 tetap akan diproses.
   
Saat ini, luas lahan pertanian di Kota Yogyakarta tersisa sekitar 53 hektare dan dimungkinkan ada pengurangan karena akan ada perubahan lahan pertanian menjadi embung dan lokasi pembangunan “science park” atau Taman Pintar kedua di Giwangan. Namun, alih fungsi lahan tersebut dikecualikan dari peraturan tersebut. 
   
Camat Umbulharjo Mardjuki memberikan apresiasi terhadap Gapoktan Ngudi Rukun yang masih tetap berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan lahan pertanian di Kota Yogyakarta.
   
“Kegiatan pertanian tidak hanya ditujukan untuk memperoleh hasil pertanian saja tetapi bisa dikembangkan untuk kebutuhan lain seperti pendidikan dan wisata,” katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar