Yogyakarta beri kemudahan siswa eksodus Palu

id Disdik yogyakarta,Siswa palu

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Yogyakarta, Edi Heri Suasana saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis. (Foto Antara/Luqman Hakim)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta mengimbau seluruh sekolah mulai sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama atau sederajat memberikan kemudahan persyaratan administrasi bagi siswa eksodus asal Palu, Sulawesi Tengah.
       
"Ada kemudahan proses administrasi, misalnya yang mau mutasi ke sini tidak harus menyertakan rekomendasi dari Dinas Pendidikan di Palu," kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Yogyakarta, Edi Heri Suasana saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis.
       
Menurut Edi, para siswa asal daerah terdampak bencana di Sulawesi Tengah tidak perlu menyertakan berbagai dokumen sebagai persyaratan administratif pendaftaran.  Meski demikian, orang tua siswa yang mendaftarkan diharapkan dapat menyebutkan Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) untuk memudahkan pelacakan di data pokok pendidikan (Dapodik). 
     
"Kalau tidak data apa saja yang dimiliki, setidaknya menyebutkan nama lengkap siswa yang bersangkutan. Kalau hanya pengakuan ya tidak bisa," kata dia.
       
Namun demikian, kata Edi, untuk kebijakan nonadministratif seperti kuota atau daya tampung serta persyaratan lainnya tetap diserahkan kepada masing-masing sekolah.
     
"Misalnya untuk tingkat SD dan SMP memiliki sama kuota yakni 32 siswa per rombongan belajar (rombel). Kalau melebihi itu kan nanti juga melanggar peraturan menteri," kata dia.
       
Sebelumnya, warga Palu, Edi Pitoyo mengaku dipersulit saat mendaftarkan anaknya, Yusril Adi Mahendra (15) siswa SMP IT Alfahmi Palu untuk pindah sekolah di Yogyakarta. Ia mengaku telah mendatangi tiga sekolah yakni SMP IT Abu Bakar Yogyakarta, SMP IT Bias Yogyakarta, dan MTSN 6 Sleman.
         
"Saat ke SMP IT Bias katanya akan dilaporkan dulu ke yayasan, setelah itu katanya harus hafalan ini itu," kata dia.
       
Karena merasa dipersulit, Edi Pitoyo lantas mendaftarkan anaknya ke SMP di Demak, Jawa Tengah. 
       
Saat dikonfirmasi, Kepala Sekolah SMP IT Bias Yogyakarta, Aya Andawiyah membantah telah mempersulit kepindahan siswa asal Palu tersebut. Menurut Aya, meski dipermudah siswa yang masuk ke SMP IT Bias memang harus melalui tes di antaranya kemampuan membaca kitab kuning serta memiliki hafalan kosa kata bahasa Arab. "Namun tiba-tiba yang bersangkutan mengaku telah mendaftarkan anaknya ke Demak," kata dia.
       
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan SMP IT Abu Bakar, Bustanu Nur Hidayati mengatakan belum pernah memutusakan tidak menerima siswa asal Palu tersebut melainkan baru mengkoordinasikan dengan kepala sekolah. "Kelas IX di SMP kami ada sembilan kelas. Seluruhnya telah memenuhi kuota 32 siswa. Aturan di Dapodik memang memaksa kami jumlah siswa harus 32 siswa," kata dia.
       
Nur juga mengaku selama ini belum mendapatkan edaran arahan atau imbauan dari Disdik Kota Yogyakarta terkait mekanisme penerimaan siswa eksodus asal Palu.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar