Yogyakarta gencarkan penerapan konsep pertanian perkotaan

id pertanian perkotaan, kampung sayur

Yogyakarta gencarkan penerapan konsep pertanian perkotaan

Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi saat melakukan panen sayuran yang ditanam warga memanfaatkan pekarangan rumah di Kelurahan Kricak (Antara Foto/Eka Arifa Rusqiyati)

 Yogyakarta  (Antaranews Jogja) - Pemerintah Kota Yogyakarta terus menggencarkan konsep pertanian perkotaan dengan memanfaatkan lahan pekarangan yang tidak terlalu luas, bahkan dinding pagar atau tembok sebagai tempat bercocok tanam dengan hasil yang cukup bagus.
   
“Bisa mencukupi kebutuhan pangan sehari-hari dari halaman rumah adalah hal yang sangat luar biasa,” kata Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi di sela panen sayur di Kelurahan Kricak Yogyakarta, Selasa.
   
Menurut dia, keberadaan berbagai tanaman sayur yang ditanam di halaman maupun dinding tersebut tidak hanya memberikan keuntungan pada warga karena tidak perlu mengeluarkan uang tambahan untuk membeli sayur, tetapi juga berdampak untuk meningkatkan kualitas lingkungan karena lingkungan menjadi terlihat hijau dan asri.
   
Jika kebutuhan pangan rumah tangga sudah tercukupi, dan sayur mayur yang dihasilkan masih berlimpah maka bisa dijual dan hasilnya dapat dimanfaatkan untuk menambah pendapatan keluarga.
   
“Bahkan, bonusnya adalah menambah daya tarik Yogyakarta dan meningkatkan kualitas lingkungan di seluruh wilayah Yogyakarta jika seluruh kampung menerapkan pertanian perkotaan, bahkan bisa mendatangkan wisatawan,” katanya.
   
Tahun lalu, di Kota Yogyakarta terdapat 32 kampung sayur dan saat ini tercatat terdapat sebanyak 40 kampung sayur. “Hasil dari kampung sayur ini bisa dimanfaatkan iuntuk memenuhi kebutuhan kuliner. Permintaan sayur untuk kuliner di Yogyakarta cukup besar, ini bisa menjadi celah yang bisa dimanfaatkan oleh warga Yogyakarta untuk meningkatkan kesejahteran,” katanya.
   
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto mengatakan, penerapan konsep pertanian perkotaan di Kelurahan Kricak tersebut menjadi bagian dari penerapan program Kampung Pangan Lestari.
   
“Kelurahan Kricak sudah bisa memproduksi berbagai sayur mayur seperti cabai, selada, bayam, tomat dan kangkung. Harapannya, penerapan pertanian perkotaan ini tidak hanya berhenti saat ini tetapi bisa terjaga hingga tahun-tahun berikutnya,” kata Sugeng.
   
Sugeng menyebut, penerapan program Kampung Pangan Lestari tidak hanya membutuhkan dukungan dari sarana dan prasara pertanian saja tetapi juga dukungan dari lingkungan seperti ketersediaan air untuk pengairan. “Ada kebutuhan konservasi air yang juga perlu diperhatikan bersama,” katanya.
   
Sementara itu, Sekretaris RT 11 Kelurahan Kricak Abdul Rahman mengatakan, minat warga untuk memanfaatkan pekarangan sebagai tempat bercocok tanam berbagai sayuran dimulai saat wilayah tersebut menjadi pemenang lomba Lorong Hijau di tingkat RW bahkan menempati peringkat tiga tingkat Kota Yogyakarta.
   
“Kami mengembangkan tanaman dengan memanfaatkan bibit yang kami peroleh. Ke depan, kami akan kembangkan dalam bentuk wisata edukasi,” katanya.
   
Hanya saja, lanjut dia, masih ada kesulitan yang dialami warga untuk becocok tanam yaitu ketersediaan air karena pengairan hanya mengandalkan sumur milik warga. “Sempat kekeringan , sehingga perlu dipikirkan bersama untuk membuat saluran dari Kabupaten Sleman sebagai irigasi,” katanya.
   
Sementara itu, warga yang membutuhkan sayur bisa memetik sendiri dan kemudian menimbangnya di sekretariat. “Mereka lalu membayar dalam bentuk infak,” katanya. 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar