Kulon Progo hidupkan kembali legenda "Sugriwo Subali"

id Bukit menoreh

Longsor di Bukit Menoreh. (Foto ANTARA/Mamiek)

Kulon Progo (Antaranews Jogja - Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mementaskan sendratari Sugriwa Subali untuk menghidupkan kembali legenda Sugriwa Subali yang ada di kawasan Bukit Menoreh pada rangkaian Menoreh Art Festival 2018.
     
"Salah satu sendratari yang menjadi kebangaan dan keunggulan kita adalah Sugriwa Subali, kalau di Candi Prambanan punya Ramayana, saya rasa hanya Kulon Progo yang punya mitos dan lagenda Sugriwo Subali,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo Untung Waluya di Kulon Progo, Minggu.
     
Ia mengatakan saat ini, Dinas Kebudayaan berupaya mendesain dan membranding sendratari Sugriwo Subali sebagai ikon kebesaran Kabupaten Kulon Progo. "Pergelaran tari yang dimainkan oleh 80 seniman-seniwati di Kulon Progo dikemas sangan menarik dan mewah supaya mampu mengajak penonton ikut dalam alur cerita," katanya.
   
 Selain kesenian lain yang sudah lebih dulu berjalan dan dengan hadirnya bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA), sewajarnya dan wajib mengembangkan inovasi, kreatifitas termasuk dalam bidang seni budaya.
   
"Pada rangkaian MAF, sendratari Sugriwo Subalimengambil tema “Gelora Gunung Samudera”. Harapanya mampu menggugah semangat masyarakat Kulon Progo terhadap seni dan budaya lokal," harapnya.
     
Sementara itu, Wakil Bupati Kulon Progo Sutedjo berharap sendratari Sugriwo Subali bisa memberikan dampak positif bagi pelestarian kebudayaan yang ada di Kulon progo, maupun perkembangan sendratari yang mengangkat sejarah Sugriwo dan Subali. Apabila sendratari ini dikemas secara baik, pasti kedepannya bisa memberikan dampak positif terhapap pelestarian budaya, sekaligus pariwisata sehinga berdampak pada perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Kulon Progo secara luas.
   
"Seni budaya yang ada di Kabupaten Kulon Progo sangat banyak dan beragam. Ini tentunya menjadi kekayaan yang harus kita lestarikan, serta menjadikannya media edukasi dan penyampaian informasi yang positif sesuai perkembangan zaman,” harapnya.
     
Selain itu, Sutedjo mengajak masyarakat menjadijan seni budaya sebagai filter atas berkembangnya teknologi informasi dan globalisasi yang kini benar-benar sarat dengan berbagai informasi baik yang positif maupun negatif.
     
"Sudah saatnya, budaya sebagai alat untuk menguatkan nasionalisme dalam membangun Kulon Progo, DIY dan Indonesia," katanya.
     
Salah pecinta seni dari Tegalsari, Purwosari, Girimulyo, Wahyu Ari Wibowo mengatakan dirinya sangat senang dengan seni pertunjukan. Seni dan budaya dapat mengasah diri mencintai budaya sendiri dan melestarikannya.
   
 "Karena saya suka budaya dan ini kekayaan yang tersembunyi di Kulon Progo yang butuh dilestarikan semoga bisa mengambil bibit-bibit putra daerah untuk pentas kedepannya,” kata Wahyu. 
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar