Kemendikbud tambah tenda kelas darurat di Palu

id Mendikbud, kelas darurat, Palu, gempa

Mendikbud Muhadjir Effendy (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/kye/17)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memastikan akan menambah tenda untuk kebutuhan kelas darurat di daerah terdampak gempa Palu yang berasal dari bantuan UNICEF sebanyak 450 unit.
   
“Sudah dikirim dari Abu Dhabi sebanyak 200 tenda, sisanya menyusul dan akan dikirim dari Denmark. Setelah sampai di Balikpapan akan segera dikirim ke Palu,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy usai membuka 8th Meeting of ASEAN Ministers Responsible for Culture and Arts (AMCA) di Yogyakarta, Rabu.
   
Jumlah tenda bantuan yang akan dikirimkan ke daerah terdampak gempa Palu dan sekitarnya tersebut masih jauh dari kebutuhan kelas darurat yang mencapai sekitar 1.460 unit. Sisanya, akan dipenuhi dengan memanfaatkan bangunan-bangunan darurat.
   
Muhadjir mengaku senang karena masyarakat juga terlibat aktif dalam upaya memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana sekolah karena bisa meningkatkan semangat siswa untuk kembali belajar dan bersekolah.
   
Namun demikian, ia sempat meminta maaf karena penanganan atau pembangunan kelas-kelas darurat di daerah terdampak gempa Palu terkesan lebih lambat dibanding penanganan saat gempa Lombok. “Banyak tenda darurat kami yang sudah terlanjur dikirim ke Lombok. Hanya tersisa 46 unit,” katanya.
   
Oleh karena itu, lanjut dia, kelas-kelas darurat untuk kebutuhan belajar dibangun dari bahan-bahan yang ada di sekitar lokasi seperti bambu dari Sulawesi Barat dan Kemendikbud sudah sepakat untuk memberikan bantuan biaya pemasangan sebesar Rp30 juta. “Ada juga bantuan terpal yang didatangkan dari Surabaya serta peralatan sekolah termasuk alat bantu belajar mengajar,” katanya.
   
Kelas darurat dari tenda akan dimanfaatkan dalam waktu dua hingga maksimal tiga bulan. “Pelaksanaan kegiatan belajar di kelas darurat jangan dibayangkan sebagai kegiatan belajar mengajar yang setiap hari dilakukan di kelas. Tetapi, kegiatan lebih difokuskan pada konseling untuk mengatasi trauma pada siswa maupun guru,” katanya.
   
Setelah kelas darurat, pada tahap berikutnya akan dibangun kelas sementara yang akan digunakan untuk kegiatan belajar mengajar selama satu atau dua tahun sebelum Kementerian PUPR membangun kembali sekolah yang rusak parah pada tahun kedua setelah bencana.
   
“Kelas sementara ini akan terbuat dari bahan ‘knock down’ sehingga cepat dibangun. Seperti di Lombok, kelas sementara ini sudah terbangun dan bisa ditempati,” katanya.
   
Sedangkan sekolah permanen baru bisa dibangun oleh Kemen PUPR dalam waktu dua tahun sejak bencana karena pada saat ini kegiatan pembangunan fisik lebih difokuskan pada upaya pengembalian infrastruktur seperti jalan dan pasar untuk menghidupkan kembali perekonomian warga.
   
“Setelahnya baru fasilitas umum, tempat ibadah dan kemudian sekolah. Oleh karena itu, ada sekolah-sekolah sementara yang bisa digunakan untuk antisipasinya,” katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar