Investasi Wisata Menoreh tunggu kebijakan pemkab

id Bukit menoreh

Komisi III DPRD Kulon Progo, DIY, terjebak material longsoran saat mengecek pembangunan infrastruktur di kawasan Bukit Menoreh belum lama ini. (Foto ANTARA/Mamiek)

Kulon Progo (Antaranews Jogja) - Perkembangan investasi sektor pariwisata Bukit Menoreh di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, belum berkembang karena menunggu kepastian kebijakan pemkab, kata Kepala Bidang Penanaman Modal  Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu, Robi Ampera.
     
"Sektor pariwisata Bukit Menoreh sangat berpotensi, tapi investornya menunggu perkembangan arah kebijakan pemkab," kata Robi Ampera di Kulon Progo, Jumat.
     
Menurut dia, investor masih menunggu berbagai kebijakan strategis pemkab dalam mengembangkan potensi wisata di Bukit Menoreh guna menyambut Bandar Udara Baru Internasional Yogyakarta dan KSPN Borobudur. Artinya, kebijakan pemkab sangat ditunggu oleh investor.
     
"Masuknya investasi cenderung mengikuti tren kebijakan pemkab dan tren perkembangan wisata yang diminati wisatawan," katanya.
     
Namun demikian, lanjut Robi, banyak investor perhotelan yang sudah membebaskan tanah di kawasan Bukit Menoreh, yakni di Kecamatan Girimulyo, Kokap, dan Samigaluh. Ada beberapa investor yang melalukan uji kontur tanah di kawasan Bukit Menoreh. Hasilnya, tanah di kawasan Bukit Menoreh tidak cocok dibangun hotel bertingkat-tingkat karena tanahnya tidak solid dan berpotensi longsor.
   
Untuk itu, ke depan, investor akan mengembangkan "cottage" untuk mengantisipasi tanah longsor.
   
 "Kami memfasilitasi investor soal pengadaan tanah dan perizinannya," katanya.
     
Sementara investasi di selatan, banyak investasi rumah makan, dan perhotelan bintang lima seperti Hotel Dafam dan Amaris yang sudah mendapat izin dan mulai membangun. Selain itu, investor rest area juga sudah mendapat izin.
     
"Saat ini, mereka tinggal  menunggu momentum yang tepat untuk pengembangan investasinya," katanya.
     
Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo Niken Probo Laras mengatakan investasi pariwisata berkembang pesat. Warga atau perorangan mengembangkan wisata berbasis potensi lokal. Saat ini, ada 88 destinasi wisata yang dikembangkan masyarakat secara mandiri.
     
"Masyarakat sudah menyadari, pariwisata sangat prospektif ke depan untuk investasi dengan adanya bandara dan KSPN Borobudur. Sehingga warga berduyun-duyun mengembangkan pariwisata," katanya. 
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar