BMKG: "MJO" picu cuaca ekstrem di DIY

id Bmkg

Ilustrasi petugas BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) menunjuk peta sebaran awan dan potensi hujan hasil penginderaan Satelit Palapa C2.DOK (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/ama/17)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Yogyakarta menyatakan fenomena Madden Julian Oscilation (MJO) atau aliran massa udara basah berpotensi memicu cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai petir dan angin kencang di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
       
"Memicu pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi terjadi hujan intensitas lebat disertai petir atau kilat dan angin kencang di beberapa wilayah DIY," kata Kepala Stasiun Klimatologi Mlati BMKG Yogyakarta, Agus Sudaryatno di Yogyakarta, Sabtu.
         
Menurut Agus, aktivitas aliran massa udara basah atau fenomena Madden Julian Oscilation (MJO) muncul dari Samudera Hindia sebelah Barat Sumatera  menuju ke wilayah Indonesia terutama Jawa yang menyebabkan kondisi atmosfer wilayah tersebut sangat basah. 
     
Fenomen itu juga memicu konvergensi atau pertemuan dan perlambatan kecepatan angin di wilayah Jawa dapat memicu pertumbuhan awan konvektif sehingga memicu hujan lebat yang diperkirakan terjadi 10 hingga 14 November.
       
Cuaca ekstrem berpotensi terjadi di sejumlah waliayah di DIY, yakni di Kacamatan Kalibawang, Samigaluh, Girimulyo, Kokap, dan Nanggulan (Kulon Progo), Turi, Cangkringan, Pakem, Tempel, Ngagglik, Seyegan, Minggir (Sleman), Semin, Ngawen, Gedangsari, Patuk, Girisubo, Tepus, Tanjungsari, Saptosari, Panggang (Gunung Kidul), Kretek, Pundong, Imogiri, Dlingo (Bantul), dan Kota Yogyakarta.
       
Dengan adanya situasi potensi cuaca ekstrem itu,  BMKG Yogyakarta mengimbau masyarakat agar mewaspadai potensi genangan, banjir maupun longsor bagi yang tinggal di wilayah berpotensi hujan lebat terutama di daerah rawan banjir dan longsor.
       
"Waspada terhadap kemungkinan hujan disertai angin yang dapat menyebabkan pohon maupun baliho tumbang atau roboh serta tidak berlindung di bawah pohon jika hujan disertai kilat atau petir," kata Agus.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar