1.600 kaum muda Indonesia menempuh pendidikan di Belanda

id beasiswa

Indy Hardono (foto istimewa) (.)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Sebanyak 1.600 kaum muda Indonesia menempuh pendidikan di Belanda, mulai jenjang strata satu (S1) hingga strata dua (S2), kata Koordinator Beasiswa Nuffic Neso Indonesia, Indy Hardono.

"Kota-kota di Belanda dikenal sebagai 'best millenial city' sehingga disukai kaum muda," kata Indy di sela sosialisasi berbagai beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda, khususnya beasiswa StuNed, di Auditorium Perpustakaan Pusat UGM Yogyakarta, Senin (12/11).

Ia menjelaskan, StuNed merupakan program beasiswa bilateral antara Belanda dan Indonesia bertujuan membantu pembangunan Indonesia melalui peningkatan sumber daya manusianya.

"Penerima beasiswa StuNed dapat mengikuti program master atau 'short course'. Seluruh universitas di Belanda dapat diakses asalkan sesuai dengan area prioritas StuNed," katanya.

Namun, menurut dia, mulai 2019 beasiswa yang diberikan pemerintah Belanda itu mengalami perubahan skema. Jika dulu pemberian beasiswa murni merupakan bantuan, mulai 2019 diubah ke arah kemitraan.

Ia mengemukakan, perubahan itu juga menyangkut target, bidang prioritas, dan sistem seleksi, meski belum total. Saat ini sedang dicari model yang cocok dengan basis kerja sama atau kemitraan.

"Pemerintah Belanda menganggap Indonesia bukan lagi negara berkembang yang perlu memperoleh bantuan . Oleh karena itu, pemerintah Belanda meredefinisi beasiswa dan menggagas skema baru pemberian beasiswa," kata Indy.

Nuffic Neso Indonesia merupakan organisasi non-profit yang ditunjuk resmi dan didanai pemerintah Belanda untuk menangani berbagai hal berkaitan dengan pendidikan tinggi Belanda.
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar