BMKG perbarui kerja sama dengan Taman Pintar Yogyakarta

id BMKG, Taman Pintar

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati bersama Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti saat melihat alat peraga di zona BMKG yang berada di Taman Pintar Yogyakarta (Foto Antara/Eka Arifa Rusqiyati)

Yogyakarta  (Antarnews Jogja - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memperbarui kerja sama dengan Taman Pintar Yogyakarta untuk tetap menampilkan sejumlah alat peraga terkait pembelajaran meteorologi, klimatologi dan geofisika di tempat wisata edukasi di Yogyakarta tersebut.
   
“Kami menyadari bahwa budaya, bukan hanya pendidikan tentang meteorologi, klimatologi dan geofisika harus menjadi bagian dari generasi yang akan datang. Generasi Y dan Z harus dipersiapkan agar memiliki budaya tersebut,” kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati di sela penandatanganan perjanjian kerja sama di Yogyakarta, Rabu.
   
Atas kepentingan tersebut, Dwikorita mengatakan, BMKG memiliki tanggung jawab untuk bisa memberikan pengetahuan terkait meteorologi, klimatologi dan geofisika ke generasi yang akan datang.
   
Oleh karena itu, lanjut dia, BMKG memilih untuk tetap mempertahankan kerja sama dengan Taman Pintar karena pengetahuan terkait meteorologi, klimatologi dan geofisika dapat disampaikan dengan cara yang lebih menyenangkan.
   
“Di Taman Pintar, pengetahuan-pengetahuan dan upaya untuk meningkatkan kewaspadaan generasi yang akan datang terhadap perubahan cuaca, kepedulian iklim termasuk pemahaman tentang gempa bumi dapat diberikan dengan cara yang menyenangkan. Ada unsur ‘edutainment’,” katanya.
   
Melalui berbagai alat peraga BMKG yang ditampilkan di Taman Pintar, pengunjung dapat mengetahui proses pemantauan cuaca, mencoba alat simulasi gempa bumi, hingga mengetahui informasi terkait perkiraan cuaca hingga informasi gempa paling mutakhir.
   
Dwikorita menyebut, budaya untuk mewaspadai berbagai bencana harus dimiliki oleh generasi Y dan Z karena di masa yang akan datang dimungkinkan kondisi cuaca dan geologi akan semakin dinamis termasuk di Indonesia.
   
“Akhir-akhir ini, kondisi cuaca ekstrim sering sekali terjadi. Mungkin saja, saat ini dianggap tidak normal tetapi di masa yang akan datang bisa saja dianggap sudah normal,” katanya.
   
Ia pun menyebut, dalam 20 tahun terakhir di Indonesia rata-rata terjadi sekitar 5.500 gempa per tahun dengan 350 hingga 360 gempa dirasakan oleh masyarakat. Namun, hingga September 2018, di Indonesia sudah terjadi sekitar 8.000 gempa dengan 360 gempa di antaranya dirasakan oleh masyarakat karena memiliki magnitudo lebih dari 5 SR.
   
“Oleh karena itu, budaya untuk waspada harus terus ditingkatkan,” katanya.
   
Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti berharap, keberadaan peraga dari BMKG tersebut bisa meningkatkan pemahaman dan kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai potensi bencana.
   
“Taman Pintar dikunjungi lebih dari satu juta orang setiap tahunnya. Harapannya, akan ada semakin banyak masyarakat yang memahami kondisi perubahan iklim, hingga berbagai bencana geologi dan bagaimana bersikap untuk mengantisipasi dan menanggulanginya,” katanya.
   
Ia pun berharap, BMKG dapat melakukan pemutakhiran terhadap berbagai alat peraga sesuai dengan kemajuan zaman. Wahana BMKG tersebut dapat diakses pengunjung di lantai satu Gedung Oval Taman Pintar. 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar