BMKG: fenomena "MJO" sampai pertengahan November

id Bmkg

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, dok (Foto ANTARA)

Yogyakarta, (Antaranews Jogja) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Yogyakarta memprakirakan fenomena Madden Julian Oscilation (MJO) atau aliran massa udara basah berpotensi memicu cuaca ekstrem di daerah ini masih aktif hingga pertengahan November 2018.
         
"MJO atau gugusan udara basah sampai pertengahan November ini masih aktif," kata Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi, BMKG Yogyakarta, Djoko Budiono di Yogyakarta, Kamis.
       
Aktivitas aliran massa udara basah atau fenomena Madden Julian Oscilation (MJO) muncul dari Samudera Hindia sebelah Barat Sumatera menuju ke wilayah Indonesia terutama Jawa yang menyebabkan kondisi atmosfer wilayah tersebut sangat basah.
     
 Fenomen itu juga memicu konvergensi atau pertemuan dan perlambatan kecepatan angin di wilayah Jawa dapat memicu pertumbuhan awan konvektif sehingga memicu hujan lebat disertai angin kencang.
         
Selain MJO, menurut Djoko pertumbuhan awan hujan di Yogyakarta juga dipicu munculnya tekanan udara rendah di barat Sumatera dan barat daya Jawa.
       
Pada awal musim hujan ini, menurut dia, potensi munculnya cuaca ekstrem seperti hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang masih berpeluang muncul terutama di siang, sore dan malam hari.
       
"Kami mengimbau masyarakat agar mewaspadai potensi genangan, banjir maupun longsor bagi yang tinggal di wilayah berpotensi hujan lebat terutama di daerah rawan banjir dan longsor," kata dia.
       
Djoko menyebutkan saat ini di bagian barat dan utara Yogyakarta sudah masuk awal musim hujan. Sedangkan sebagian besar wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) baru akan masuk awal musim hujan pada pertengahan November.
     
"Terakhir nanti wilayah Gunung Kidul bagian selatan dan timur di akhir November baru akan masuk musim hujan," kata Djoko.***4***
 
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar