Yogyakarta waspadai ancaman leptospirosis

id leptospirosis, demam berdarah, tikus, wolbachia

Ilustrasi (Foto antaranews.com)

Yogyakarta  (Antaranews Jogja) - Catatan kasus leptospirosis di Kota Yogyakarta sepanjang 2018 yang terjadi di lebih dari separuh wilayah merupakan sinyal bagi masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit tersebut.
   
“Sepanjang 2018, sudah ada 17 kasus leptospirosis dan empat pasien di antaranya meninggal dunia. Dengan angka ini, maka indeks kematiannya bisa dikatakan cukup tinggi sehingga kewaspadaan harus ditingkatkan,” kata Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Agus Sudrajat di Yogyakarta, Kamis.
   
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, kasus leptospirosis muncul di Kecamatan Ngampilan, Wirobrajan, Gedongtengen, Kotagede, Kraton, Mantrijeron, Umbulharjo dan Gondomanan, atau di delapan dari total 14 kecamatan di Kota Yogyakarta.
   
Atas luasnya penyebaran kasus, Agus mengatakan, kasus penyakit yang disebabkan bakteri leptospira tersebut dapat muncul di seluruh wilayah Kota Yogyakarta apabila masyarakat tidak peduli pada kebersihan lingkungan di sekitarnya.
   
Salah satu hewan yang bisa menjadi pembawa bakteri leptospira dan menularkannya ke manusia melalui urine adalah tikus. “Seperti diketahui, tikus senang hidup di tempat-tempat yang kotor. Oleh karena itu, salah satu antisipasi yang bisa dilakukan adalah menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi sarang tikus,” katanya.
   
Selain menjaga kebersihan lingkungan, salah satu upaya agar angka kematian akibat kasus leptospirosis tidak semakin meningkat adalah dengan melakukan pemeriksaan sesegera mungkin ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, badan menggigil, mata merah dan terkadang disertai muntah.
   
Agus mengatakan, tingginya angka kematian leptospirosis pada tahun ini disebabkan pasien terlambat ditangani karena gejala yang timbul hampir sama seperti penyakit lain. “Pada umumnya, penyakit ini bisa menyebabkan gagal ginjal. Kegagalan organ vital ini yang kemudian menyebabkan kematian,” katanya.
   
Selain leptospirosis, Yogyakarta yang menjadi wilayah endemik penyakit demam berdarah (DB) juga harus tetap waspada terhadap penularan penyakit yang disebabkan virus tersebut selama musim hujan meskipun kasus DB hingga 13 November rendah, yaitu 87 kasus.
   
“Di Kota Yogyakarta, sudah ada upaya dan keterlibatan masyarakat untuk memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk. Misalnya, gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik, atau gerakan pemberantasan sarang nyamuk,” katanya.
   
Sementara itu, Peneliti Utama World Mosquito Program (WMP) Adi Utarini mengatakan, salah satu upaya penanganan DB di Yogyakarta dilakukan dengan penyebaran nyamuk aedes aegypti yang mengandung bakteri wolbachia.
   
“Sudah ada sekitar 8.000 ember berisi telur nyamuk yang ditempatkan di rumah-rumah warga di Kota Yogyakarta. Dan saat ini, persentase nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia cukup bagus mencapai lebih dari 80 persen di seluruh wilayah pelepasan,” katanya.
   
Penelitian mengenai dampak penyebaran aedes aegypti ber-wolbachia untuk menekan kasus DB akan terus dilakukan dengan merekrut pasien demam yang berobat di 18 puskesmas di Kota Yogyakarta dan puskesmas di Kabupaten Bantul untuk menjadi responden. Hasil penelitian baru bisa diketahui pada 2020.
   
“Pada saat itu, kami baru bisa menjawab apakah nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia efektif atau tidak untuk menurunkan DB,” katanya. 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar