Pengembangan energi panas bumi terhambat pemahaman masyarakat

id Esdm

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (Foto Antara)

 Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi, dan Sumber Daya Mineral Bambang Gatot Ariyono mengatakan hingga saat ini pengembangan energi panas bumi berjalan lambat karena masih terhambat pemahaman masyarakat yang tidak utuh.
         
"Selama ini ada isu-isu negatif kalau itu (pengembangan energi panas bumi) mengganggu lingkungan," kata  Bambang dalam acara  "Kementerian ESDM Goes To Campus" di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Yogyakarta, Jumat.
         
Menurut Bambang, akibat persepsi negatif yang terbangun di tengah masyarakat, hingga saat ini pemanfaatan energi panas bumi sebagai sumber energi listrik belum mencapai 50 persen dari total potensi energi panas bumi di Indonesia yang diperkirakan mencapai 27.000 megawatt (MW).
         
"Ini patut disayangkan, padahal energi panas bumi ini bersih. Ini energi nonfosil yang bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan dan tidak akan habis," kata Bambang.
         
Oleh sebab itu, menurut dia, perlu dilakukan upaya penyadaran dengan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat. Sebagian besar masyarakat, menurut dia, masih  beranggapan bahwa eksplorasi energi baru terbarukan itu bisa membuat air di permukaan akan berkurang dan tercemar.
         
 "Sebenarnya air itu bersirkulasi dan tidak banyak yang digunakan untuk eksplorasi panas bumi. Jadi jangan dianggap nanti sungainya jadi kering, tidak karena ini pemanasan geologi, bukan pemanasan sungai," kata dia.
           
Ia berharap pemahaman masyarakat mengenai eksplorasi panas bumi yang tidak utuh dipolitisasi oleh pihak-pihak tertentu. "Kalau itu mengganggu lingkungan ya silakan tetapi ini jangan dipolitisasi yang kemudian tidak jadi ada energi," kata dia.
           
Selain masih kerap mendapat penolakan dari masyarakat, Bambang mengakui kendala lain pengembangan energi panas bumi juga berkaitan dengan lokasi. Menurut dia, hampir sebagian besar wilayah eksplorasi panas bumi berada di wilayah hutan lindung atau konservasi sehingga terkendala perizinan.
           
"Permasalahannya eksplorasi di hutan lindung karena memang biasanya panas bumi berhubungan dengan gunung," kata dia.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar