Retribusi wisata Kulon Progo capai Rp3,386 miliar

id Sermo

Kebun Teh Nglinggo Kabupaten Kulon Progo, DIY. (FOTO ANTARA/Mamiek)

Kulon Progo (Antaranews Jogja) - Realisasi retribusi tempat rekreasi dan olahraga di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dari Januari hingga 31 Oktober mencapai 83,57 persen atau sekitar Rp3,386 miliar dari target Rp4,051 miliar.
     
"Capaian target masih kurang Rp665 juta. Kami optimistis hingga akhir tahun ini target retribusi tempat rekreasi dan olahraga akan tercapai," kata Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo Niken Probo Laras di Kulon Progo, Sabtu.
     
Ia mengatakan objek wisata dengan capaian tertinggi, yakni Pantai Glagah sebesar Rp2,264 miliar, Waduk Sermo Rp401 juta, Pantai Congot sebesar Rp293 juta dan Pantai Trisik sebesar Rp122 juta. Kemudian disusul Kebun Teh Nglinggo Rp90 juta, Puncak Suroloyo Rp73 juta, dan Tritis Rp25,6 juta.
     
"Objek wisata tersebut pendapatan retribusinya mengalami peningkatan signifikan, khususnya Waduk Sermo dan Pantai Congot. Waduk Sermo terangkat dengan adanya Kalibiru, Pule Payung dan Canting Mas. Sedangkan Congot, terdampak adanya pembangunan bandara," kata Niken.
     
Niken mengatakan guna mendongkrak kunjungan wisata saat libur sekolah, natal dan Tahun Baru 2019, Dispar akan menyiapkan sarana pendukungnya.
     
"Kami masih memetakan agenda pendukung untuk menyambut libur panjang nanti," katanya.
   
Terkait rendahnya target retribusi wisata di Kulon Progo, Niken mengatakan objek wisata di Kulon Progo mayoritas berkembang wisata alam di perbukitan dan berbasis masyarakat. Kemudian wisata berbasis wisata massal hanya Pantai Glagah, Trisik dan Congot. Pantai Glagah sendiri terkena dampak pembangunan bandara.
     
"Wisata di luar Kulon Progo, seperti Gunung Kidul dan Bantul mayoritas wisata massal. Meski demikian, kami akan mengoptimalkan potensi wisata di Kulon Progo dengan wisata paket," katanya.
   
Sementara itu,Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Kulon Progo Edi Priyono mengatakan Dispar harus mulai memetakan kembali potensi wisata supaya lebih banyak pengunjungnya. "Dispar harus inovatif dan kreatif menangkap peluang wisata dengan adanya bandara," katanya.
     
Saat ini, kata Edi, di kawasan selatan, masyarakat secara mandiri mulai mengembangkan kawasan pantai. Misalnya masyarakat Bugel, Panjatan, mengembangkan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bugel. Setiap Minggu, masyarakat menggelar senam terapi. Pengelola juga menjadikan kapal mendarat sebagai tontonan kepada pengunjung.
     
Pengelelola wisata TPI Bugel belum menarik retribusi masuk, hanya mendapatkan pendapatan dari jasa parkir.
     
"Potensi wisata yang dikembangkan oleh masyarakat, seperti Dermaga Tanjung Adikarto, TPI Bugel, dan Trisik berkembang baik. Hal ini membutuhkan payung hukum yang jelas, jangan sampai dikemudian hari menjadi masalah baru karena masuk wilayah kontrak karya," katanya. 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar