Warga mengungsi akibat talut Sungai Code longsor

id talut, sungai code,longsor

Talut Sungai Code yang berada di wilayah Kelurahan Prawirodirjan Yogyakarta mengalami longsor (Foto Antara/Eka Arifa Rusqiyati)

Yogyakarta (ANTARA News Jogja) - Sejumlah warga yang berada di RW 18 Kelurahan Prawirodirjan, Kota Yogyakarta, terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman setelah tempat tinggal mereka rusak akibat talut di Sungai Code longsor.

"Tidak berani lagi tinggal di sini karena merasa was-was apalagi jika hujan turun, takut longsor lagi. Kami pun memilih mengungsi sementara ke tempat saudara yang lokasinya tidak terlalu jauh dari sini," kata salah satu warga terdampak talut longsor Sumiyati di Yogyakarta, Rabu.

Sumiyati bersama suami serta anak dan dua cucunya menghuni salah satu rumah yang terdampak kerusakan talut. Pada saat kejadian sekitar pukul 05.30 WIB, ia tengah berada di pasar dan baru mengetahui kejadian tersebut saat pulang ke rumah.

"Bagian dapur yang rusak. Memang tidak terlalu parah jika dibanding dengan kerusakan balai pertemuan warga. Namun, kami tetap memilih untuk mengungsi sementara waktu,' katanya yang mengaku sudah tinggal di Prawirodirjan selama 60 tahun itu.

Pada saat kejadian, Sumiyati mengatakan, di wilayah Prawirodirjan tidak turun hujan. "Semalam, aliran air sungai sempat tinggi karena ada kiriman air dari utara. Mungkin di sisi utara turun hujan,"  katanya.

Seorang warga lain, Ngantiyem mengaku melihat secara langsung dampak dari kejadian talut longsor tersebut. Ia tengah berada di lokasi selepas dari pasar.

Ada suara yang cukup keras, dan tiba-tiba bangunan balai pertemuan warga ini sudah rusak. Ambruknya pelan-pelan dan ada kepulan debu. Kondisinya menjadi hampir roboh seperti sekarang,? katanya yang mengaku langsung berteriak setelah melihat kejadian tersebut. Meski rumahnya tidak terdampak kerusakan talut, namun ia mengatakan, masih merasa sangat terkejut sekaligus takut jika mengingat kejadian tersebut.

Sementara itu, Ketua RW 18 Prawirodirjan Wikan Eko mengatakan, kejadian kerusakan talut di wilayahnya baru terjadi satu kali ini.

"Kondisi talut memang sudah rusak. Bagian bawahnya sudah `gogos? atau tergerus air sungai. Mungkin juga disebabkan usia talut cukup tua. Dibangun sekitar 1980-an," katanya.

Warga, lanjut Wikan, sudah melaporkan kerusakan talut tersebut ke pihak terkait namun belum ada penanganan hingga sekarang dan akhirnya talut longsor.

Ia berharap, Pemerintah Kota Yogyakarta bisa segera melakukan penanganan.
      'Untuk sementara ini, kami sudah memperoleh bantuan karung pasir dan terpal untuk menutup talut yang longsor. Harapannya tetap bisa dilakukan perbaikan permanen," katanya.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta, talut mengalami kerusakan sepanjang 70 meter dengan tinggi enam meter yang mengakibatkan kerusakan terhadap balai pertemuan warga, tujuh rumah, dan sejumlah MCK umum.

Saat ini, lokasi yang mengalami longsor sudah diberi garis batas dan diharapkan tidak ada warga yang berada di lokasi karena masih rawan. Tidak ada korban jiwa dari peristiwa tersebut. Namun ada tujuh KK dengan 19 jiwa yang terpaksa mengungsi.

"Di talut yang longsor, kebetulan posisi tembok rumah warga tepat berada di talut. Hal ini bisa menyebabkan beban talut menjadi berat sehingga akhirnya longsor," kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta Hari Wahyudi.
     
 Atas kejadian tersebut, BPBD Kota Yogyakarta melakukan penanganan dengan mengirimkan kebutuhan logistik, serta penanganan sementara dengan membersihkan bagian tengah sungai agar aliran air menjadi lancar dan tidak mengalir lebih deras di bagian tepi.

Hari mengatakan, antisipasi yang bisa dilakukan masyarakat untuk menjaga kondisi talut agar kekuatan konstruksinya terjaga adalah tidak mendirikan bangunan di atas talut, tidak membuang sampah sembarangan dan tidak melakukan penambagan pasir liar.
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar