Kerajinan bambu Bantul raih Anugerah Pesona Indonesia

id Kerajinan bambu

Seorang pengrajin menyelesaikan proses pembuatan hiasan interior berbahan baku bambu. FOTO ANTARA/ Andreas Fitri Atmoko/nov/12

Bantul (Antaranews Jogja) - Kerajinan bambu produk pengrajin Dusun Munthuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, meraih penghargaan dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia Tahun 2018 sebagai cinderamata terpopuler.
     
"Penghargaan ini merupakan suatu bentuk apresiasi yang sangat luar biasa untuk mengangkat salah satu daya tarik wisata khususnya cinderamata kerajinan dari bambu," kata Kepala Bidang Pemasaran, Dinas Pariwisata Bantul Ni Nyoman Yudiriani di Bantul, Rabu.
     
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Kementerian Pariwisata RI, I Gede Pitana kepada perwakilan dari Pemkab Bantul dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia pada akhir November 2018.
       
Menurut dia, Kabupaten Bantul meraih Juara dua Cinderamata Terpopuler untuk Kerajinan Bambu Munthuk setelah pada 2018 masuk sebagai salah satu kontestan dalam Ajang Apresiasi Pariwisata Terpopuler Indonesia yang diadakan setiap tahun oleh Kementerian Pariwisata RI.
     
Penghargaan itu, kata dia, menambah daftar prestasi sektor pariwisata Bantul setelah pada Tahun 2017 memboyong Piala Anugerah Pesona Indonesia sebagai Juara dua Kategori Surga Tersembunyi dan Juara tiga Kampung Adat Terpopuler.
     
"Tentu saja pemerintah daerah (pemda), dalam hal ini Dinas Pariwisata berbangga hati bahwa masyarakat binaannya mampu bersaing dengan daerah lain dalam hal keunikan kerajinan bambu serta promosinya," katanya. 
     
Untuk itu, lanjut dia, instansinya akan selalu terus memberikan pendampingan kepada masyarakat pengrajin bambu dalam meningkatkan kapasitas pengrajin, dan pengelola desa wisata agar bisa lebih baik lagi.
     
"Kita terus melakukan pendampingan baik dalam memberikn pelayanan ke wisatawan maupun mengemas produk mereka, agar dapat berdaya saing dengan produk daerah lain dan berdaya jual," kata Nyoman.
       
"Kami juga berharap kepada pengrajin jangan puas sampai di sini, namun tetap terus berkarya, berinovasi dengan selalu membuka wawasan dan tanggap dengan kebutuhan pasar dengan tidak meninggalkan identitas setempat," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar