"Jogja Heboh" diharapkan dongkrak kunjungan wisata

id Tugu Jogja

Ilustrasi festival seni. (Foto ANTARA Jogja)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Pelaku wisata dan usaha di Daerah Istimewa Yogyakarta kembali akan menggelar kegiatan "Jogja Heboh" yang diharapkan mampu mendongkrak kunjungan wisata biasanya yang rendah pada Februari.

"Dalam satu tahun, bulan Februari adalah bulan dengan jumlah kunjungan wisata paling rendah. Oleh karena itu, perlu dilakukan berbagai upaya untuk mendongkrak kunjungan wisata saat itu," kata Ketua Dua Jogja Heboh 2019 Arif Effendi di Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, ada dua kegiatan utama yang akan digelar untuk menyemarakkan Jogja Heboh yaitu atraksi wisata dan belanja atau transaksi.

Atraksi wisata yang diharapkan mampu mendongkrak kunjungan wisatawan diantaranya pentas seni dan budaya, pameran, hingga kegiatan olahraga seperti yang akan digelar di Kabupaten Kulon Progo yaitu "color run".

Sedangkan untuk kegiatan transaksi atau perekonomian, di antaranya pemberian potongan harga saat berbelanja hingga potongan tarif hotel yang cukup besar, yaitu 60 persen.

Dalam pelaksanaan Jogja Heboh untuk tahun ketiga ini, lanjut Arif, juga disiapkan aplikasi khusus yang akan memudahkan masyarakat atau wisatawan saat akan berbelanja baik di pasar modern, pasar tradisional, tempat wisata hingga akomodasi.

"Melalui aplikasi tersebut juga memungkinkan masyarakat untuk melakukan transaksi secara nontunai. Kami pun juga ingin menyukseskan program pemerintah yaitu pembayaran nontunai," katanya.

Arif mengatakan panitia penyelenggara terus mengajak sebanyak-banyaknya pelaku usaha untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, tidak hanya pelaku usaha besar, tetapi juga pelaku usaha kecil seperti angkringan hingga pedagang bakso.

Masyarakat yang melakukan transaksi menggunakan aplikasi tersebut akan memperoleh kesempatan untuk memenangkan hadiah menarik karena setiap transaksi senilai Rp100.000 akan memperoleh satu kupon.

Aplikasi tersebut juga memungkinkan pemerintah daerah melihat pergerakan perekonomian yang terekam sepanjang Februari, sehingga data tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam penentuan kebijakan di masa yang akan datang.

"Dari aplikasi akan bisa diketahui jumlah kamar hotel yang disewa hingga nilai belanja. Sehingga bisa dilihat aspek apa saja yang masih perlu dikembangkan," katanya.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Istidjab Danunagoro mengatakan, Jogja Heboh diharapkan mampu meningkatkan okupansi hotel.

"Saat `low season? okupansi hotel rata-rata rendah yaitu sekitar 50 persen," katanya yang menyebut penyelenggaraan kegiatan tidak hanya terpusat di Kota Yogyakarta saja tetapi juga di empat kabupaten lain di DIY.

Oleh karena itu, Istidjab berharap, kegiatan Jogja Heboh tersebut bisa meningkatkan okupansi hotel secara merata, bahkan hotel juga menyiapkan undian berupa voucher menginap.
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar